Krishnamurti Subtitles

Mengapa Kita Takut Menjadi Tiada?

Brockwood Park - 25 June 1983

Conversation with Pupul Jayakar 2



0:38 P: Pak, baru-baru ini saya membaca
berita di sebuah surat kabar
  
0:49 bahwa sebuah pesawat ruang angkasa
telah diluncurkan.
  
0:54 Pesawat itu akan melintasi
luar angkasa dari jagad raya
  
1:03 dan akan menjadi bagian
dari jagad raya.
  
1:15 Tiada akhir bagi pesawat itu
karena tak akan ada friksi,
  
1:22 tak ada waktu,
sehingga tak ada akhir.
  
1:27 Adakah...
Adakah bagian-dalam-dari-diri...,
  
1:33 dari otak manusia,
benak manusia,
  
1:39 -bagaimanapun Anda menyebutnya-
adakah bagian-dalam-dari,
  
1:48 entah dari manusia,
dari pohon, alam,
  
1:54 yang merupakan ruang
tanpa akhir?
  
1:58 Apakah itu sebuah cerminan
dari keluasan yang ada?
  
2:07 K: Apakah Anda menanyakan, jika saya
boleh mengulangi perkataan Anda,
  
2:18 bahwa dalam otak manusia
 
2:25 -saya ingin membedakan
antara otak dan pikiran,
  
2:31 yang akan kita diskusikan
sebentar lagi-
  
2:35 apakah di dalam otak manusia
ada, atau mungkin ada,
  
2:51 suatu ruang tanpa akhir,
suatu keabadian, di luar waktu?
  
3:09 Kita bisa berspekulasi sangat banyak
tentang itu seperti dilakukan para filsuf,
  
3:15 namun spekulasi itu
bukanlah aktualitas.
  
3:21 P: Bukan. Namun, itu suatu wawasan
tentang ruang angkasa.
  
3:31 K: Otak manusia
telah menciptakan sebuah mesin
  
3:34 yang mampu memasuki
keseluruhan...
  
3:37 P: Tetapi, ada wawasan lebih dulu
tentang kemungkinan itu,
  
3:43 yang telah
membuat mereka bisa
  
3:46 menguji coba dan
membuktikan hal tersebut.
  
3:49 K: Yaitu menciptakan mesin
yang mampu menembus...
  
3:55 yang akan memasuki alam semesta.
P: Jika Anda tidak meyakini suatu hal,
  
4:00 Anda bahkan tak dapat...
 
4:02 K: Tidak, saya mempertanyakan apakah
-saya ingin hal ini jelas-
  
4:07 apakah kita kini, dalam percakapan ini,
sedang berspekulasi
  
4:11 atau berteori, atau kita sungguh-sungguh
berupaya menemukan dalam diri kita
  
4:21 apakah kebesaran semacam itu ada,
 
4:25 apakah sesungguhnya ada suatu gerakan
 
4:33 yang lepas dari waktu,
yang abadi. Betul?
  
4:39 P: Bagaimana mengawali
penyelidikan semacam ini?
  
4:43 Dengan memeriksa
atau mengajukan pertanyaan?
  
4:47 Jika tidak mengajukan pertanyaan...
K: Kita sudah mengajukan pertanyaan.
  
4:50 P: Harus ajukan pertanyaan.
K: Sudah.
  
4:52 P: Sekarang, apakah hasilnya
merupakan spekulasi atau penyelidikan,
  
5:05 itu tergantung cara kita mendekatinya.
Namun, pertanyaannya harus diajukan.
  
5:08 K: Kita sudah mengajukannya.
Kita sudah bertanya,
  
5:14 apakah otak dapat memahami
-bukan memahami-
  
5:25 dapat menyadari kebenaran tentang adanya
keabadian atau ketidakabadian?
  
5:41 Ini sebuah pertanyaan, kita sudah
mengajukannya. Betul?
  
5:46 Kini Anda bertanya, bagaimana cara kita
untuk mulai menyelidikinya?
  
5:54 Bagaimana Anda mulai merasakannya
secara perlahan, tak pasti,
  
5:59 jalan Anda menuju pertanyaan
yang sangat fundamental ini,
  
6:05 suatu pertanyaan yang telah diajukan
sejak beribu tahun silam,
  
6:12 apakah manusia memang terjerat waktu
untuk selamanya, ataukah ada,
  
6:21 atau akan ada,
bukan imajinasi, bukan romantika,
  
6:27 namun nyata-nyata,
adakah di dalam otak...
  
6:35 atau bisakah otak menyadari keberadaannya
dalam tataran keabadian?
  
6:44 Itulah pertanyaan
yang kita ajukan.
  
6:47 P: Bahkan untuk membahas hal ini,
 
6:51 Anda mulai dengan
menegaskan perbedaan
  
6:54 antara otak
dengan batin.
  
6:58 Dapatkah Anda
memperjelasnya?
  
7:04 K: Kita berkata bahwa otak
telah terkondisi,
  
7:10 setidaknya sebagian dari otak.
 
7:14 Pengkondisian ini timbul
dari pengalaman.
  
7:19 Pengkondisian ini
merupakan pengetahuan.
  
7:24 Dan pengkondisian ini merupakan ingatan.
Dan pengalaman, pengetahuan,
  
7:31 ingatan bersifat terbatas
sehingga pikiran pun bersifat terbatas.
  
7:36 Hingga saat ini,
kita masih mempergunakan pikiran.
  
7:46 Namun, untuk menemukan sesuatu
yang baru, harus ada saat,
  
7:51 paling tidak untuk sementara,
atau untuk suatu periode,
  
7:56 ketika pikiran tak bergerak,
ketika pikiran ditangguhkan.
  
8:05 P: Otak adalah benda berwujud.
K: Ya.
  
8:10 P: Dia punya aktivitasnya sendiri.
 
8:16 K: Ya. Dia punya aktivitasnya sendiri
yang tidak diatur oleh pikiran.
  
8:26 P: Tapi, selama berabad-abad,
jalannya otak
  
8:32 telah menjadi
jalannya pikiran.
  
8:35 K: Tepat.
Itulah yang kita bicarakan.
  
8:37 Itulah yang kita bicarakan,
bahwa seluruh pergerakan otak,
  
8:45 setidaknya sebagian dari otak
yang selama ini kita gunakan,
  
8:49 telah terkondisi oleh pikiran.
 
8:53 Dan sifat pikiran
selalu terbatas
  
8:57 sehingga ia selalu terkondisi
untuk berkonflik.
  
9:03 Apa pun yang terkondisi
pasti akan menciptakan pemisahan.
  
9:08 P: Lalu apa itu batin?
 
9:10 K: Batin adalah dimensi
yang sama sekali berbeda.
  
9:18 yang tidak bersangkut-paut
dengan pikiran.
  
9:27 Saya akan jelaskan.
 
9:31 Otak, atau sebagian dari otak
yang selama ini bekerja
  
9:40 sebagai alat bagi pikiran,
 
9:43 otak tersebut telah terkondisi,
bagian otak tersebut.
  
9:48 Dan selama bagian dari otak tersebut
tetap berada dalam tataran yang sama,
  
9:52 tidak ada komunikasi,
komunikasi menyeluruh, dengan batin.
  
9:59 Maka, ketika pengkondisian
tidak terjadi,
  
10:03 terjadilah komunikasi
 
10:06 antara batin itu, yang berada pada dimensi
yang sama sekali berbeda,
  
10:12 yang bisa berkomunikasi
dengan otak
  
10:16 dan bertindak,
menggunakan pikiran.
  
10:21 P: Kalau begitu, Anda sudah membenarkan...
K: Oh, tentu.
  
10:26 P: ... adanya suatu tataran
di luar pikiran.
  
10:31 K: Itu benar. Jadi,
di luar waktu.
  
10:40 P: Waktu menjadi
inti utama dari persoalan ini...
  
10:48 K: Waktu dan pikiran.
 
10:53 P: Pikiran timbul dari waktu.
Maksud saya, pikiran adalah waktu.
  
10:57 K: Itu sangat benar.
 
11:04 Mulai dari mana,
maksud Anda?
  
11:06 P: Bukan. Mungkin bila kita bisa
mendalami seluruh persoalan
  
11:12 tentang arus waktu, kapan
pencegatan bisa terjadi?
  
11:24 K: Apa maksud Anda, “pencegatan”,
karena saya kurang mengerti
  
11:27 pemakaian kata itu.
Tak seorang pun bisa...
  
11:33 P: Maksud saya,
bukan seorang pencegat...
  
11:36 K: Itu dia.
P: melainkan...
  
11:40 K: akhir dari itu.
P: Tadinya saya ingin gunakan kata lain,
  
11:43 namun Anda
bisa gunakan kata “akhir”.
  
11:45 K: Mari gunakan kata-kata
yang lebih sederhana.
  
11:49 P: Waktu bermula sejak beribu-
ribu tahun lalu.
  
11:52 K: Ya, yang adalah pikiran!
 
11:54 P: Pikiran juga bermula
sejak beribu-ribu tahun lalu,
  
11:57 berproyeksi ke masa depan
yang juga abadi.
  
12:01 K: Gerak pikiran.
P: Abadi.
  
12:04 K: Masa depan dikondisikan
oleh masa lalu, sebagai nurani manusia.
  
12:15 P: Jadi, kecuali manusia berakhir,
kecuali dia berhenti ada...
  
12:22 K: Berhenti terkondisi.
 
12:33 P: Tetapi, Anda akan tetap
menggunakan pikiran.
  
12:37 K: Tidak.
 
12:38 P: Isinya akan mengalami perubahan,
 
12:41 tetapi mekanisme pikiran
akan berlanjut.
  
12:46 K: Mekanisme pikiran akan berlanjut...
Coba kita lihat dari sisi lainnya.
  
12:55 Begini, pikiran adalah instrumen utama
yang kita punya. Betul?
  
13:00 P: Ya.
 
13:02 K: Dan instrumen itu, setelah ribuan tahun
melalui berbagai daya-upaya,
  
13:13 berbagai tindakan, instrumen ini
tak hanya telah menjadi tumpul,
  
13:17 tetapi juga telah mencapai
batas akhirnya!
  
13:21 Karena pikiran ini terbatas
dan waktu pun terbatas. Betul?
  
13:29 Maka, ia terkondisi,
terpecah-pecah,
  
13:34 dan terus-menerus
berada dalam kekacauan.
  
13:40 Nah, dapatkah itu berhenti?
Itulah pertanyaannya.
  
13:45 P: Nah, tadi saya
menyebutkan kata “pencegatan”.
  
13:51 Gerak masa lalu sebagai pikiran,
sebagai hari kemarin...
  
13:59 K: ... sebagai hari ini.
P: Namun, apa itu hari ini?
  
14:07 K: Hari ini adalah gerak masa lalu,
termodifikasi. Ingatan.
  
14:17 Kita ini setumpuk ingatan.
P: Itu betul.
  
14:23 Namun, kontak dengan waktu...
 
14:29 K: Tunggu sebentar,
apa maksudnya kontak dengan waktu?
  
14:31 Waktu adalah pikiran!
 
14:33 P: Waktu sebagai
proses psikologis.
  
14:36 -maksud saya, bukan kontak...
K: Tentu. Lewatkan itu semua.
  
14:39 P: Namun, kontak dengan waktu
sebagai proses psikologis
  
14:48 terjadi di masa kini, bukan?
Di situ hanya ada kesadaran...
  
14:53 K: Pupulji, kita perjelas dahulu.
Waktu adalah pikiran. Betul?
  
14:59 Jangan melihat waktu
seolah-olah ia terpisah dari pikiran.
  
15:03 P: Waktu adalah pikiran.
K: Jadi, itu adalah waktu-pikiran.
  
15:07 P: Ya. Sebagaimana masa lalu,
masa kini, dan masa depan.
  
15:12 K: Apakah Anda menanyakan,
apa itu masa kini?
  
15:16 P: Ya, karena "pencegatan"
yang saya sebutkan tadi
  
15:20 - izinkan saya gunakan kata itu dulu
sampai Anda nanti menggantinya...
  
15:24 K: Baik. Pencegatan
saya tak begitu paham.
  
15:26 P: Pencegatan adalah kontak dengan,
kontak dengan fakta.
  
15:32 K: Kontak dengan fakta
bahwa segala gerak pikiran...
  
15:39 P: Belum sampai ke situ,
baru kontak dengan "yang-ada"
  
15:43 K: Yaitu
masa kini?
  
15:45 P: Apa pun.
Pernyataan Anda sekarang,
  
15:48 semua yang tengah Anda ucapkan
dan saya yang mendengarkan Anda
  
15:53 adalah kontak dengan "apa adanya".
K: Saya paham.
  
15:55 Yakni -boleh saya ulangi
sesuai pemahaman saya?
  
16:02 Masa lalu, masa kini,
dan masa depan
  
16:05 ialah gerak
waktu-pikiran.
  
16:09 Bagaimana Anda dapat menyadarinya?
 
16:13 P: Ya, bagaimana...
 
16:15 K: Bagaimana Anda melihat
kebenaran di dalamnya, faktanya?
  
16:25 P: Anda tahu, Pak, ada sesuatu
yang kita sebut sentuhan taktil.
  
16:30 K: Bisa saya sentuh, ya, sentuhan tekstil.
P: Nah...
  
16:35 K: Bukan tekstil, taktil.
 
16:44 Bagaimana Anda menyentuh hal ini?
P: Bagaimana menyentuh hal ini.
  
16:47 K: Bagaimana Anda
-memakai istilah Anda-
  
16:49 melalukan kontak dengan ini.
Dengan fakta...
  
16:53 Dengan fakta bahwa saya
adalah sekumpulan ingatan,
  
17:00 yang adalah waktu-pikiran.
 
17:02 P: Mari kita bicara
lebih konkret.
  
17:11 Pikiran bahwa saya
akan pergi nanti sore
  
17:20 dan bahwa saya
akan meninggalkan Anda,
  
17:23 itu adalah pikiran.
K: Itu adalah pikiran.
  
17:26 Itu adalah sesuatu yang aktual.
P: Sesuatu yang aktual.
  
17:29 Tapi di dalamnya, ada suatu kepedihan
karena akan meninggalkan Anda,
  
17:36 yang adalah
elemen emosional, psikologis
  
17:45 yang menyelimuti
fakta tadi.
  
17:50 K: Ya, artinya?
Anda tahu syair Prancis,
  
17:54 "Partir, un peu mourir."
P: Ya. Jadi, bagaimana seseorang...
  
18:02 Kontak dengan apa? Bukan
dengan fakta, saya akan pergi.
  
18:06 K: Namun, apa?
P: Namun, kepedihan itu.
  
18:10 K: Kepedihan.
Saya paham.
  
18:14 Apakah Anda menanyakan...
Kepedihan karena pergi,
  
18:23 kepedihan dari ribuan sakit,
kepedihan bertahun-tahun, berabad-abad,
  
18:27 kesepian, duka,
dan sebagainya,
  
18:34 nestapa, penderitaan, kemasygulan,
dan sebagainya,
  
18:41 apakah semua itu terpisah
dari saya yang merasakannya?
  
18:47 P: Tak bisa dipisahkan.
K: Itulah saya!
  
18:53 P: Pada titik manakah, bagaimana
saya bersentuhan dengan itu?
  
18:57 K: Saya tak begitu paham
"bagaimana bersentuhan dengan itu".
  
19:09 P: Hanyalah pada masa kini...
K: Saya paham maksud Anda.
  
19:15 P: Keseluruhan gagasan ini
dibangun di atas itu.
  
19:19 K: Ya. Itu
yang saya katakan.
  
19:20 Sekarang mengandung masa lalu,
masa depan, dan masa kini.
  
19:26 Betul?
P: Ya.
  
19:28 K: Mari kita pahami ini.
 
19:30 Masa kini merupakan keseluruhan
masa lalu dan masa depan.
  
19:40 Inilah masa kini.
 
19:42 Masa kini adalah saya,
dengan ingatan dari ribuan tahun lalu.
  
19:52 dan ribuan tahun itu
termodifikasi setiap waktu.
  
19:58 dan masa depan - semua itu sekarang,
masa kini. Betul?
  
20:05 P: Masa kini pun bukanlah
benda statis. Dia berlalu...
  
20:15 K: Tentu, tentu,
tentu.
  
20:16 Begitu Anda mengatakannya, dia berlalu.
P: Dia berlalu.
  
20:21 Jadi apa yang
sesungguhnya Anda lihat?
  
20:24 Apa yang sesungguhnya
Anda amati?
  
20:27 K: Sesungguhnya, amati fakta...
P: Fakta apa?
  
20:31 K: Fakta itu
-tunggu sebentar- fakta bahwa
  
20:33 masa kini adalah
seluruh gerak waktu dan pikiran.
  
20:44 Untuk melihat kebenaran di dalamnya
-mari gunakan kata selain "melihat"-
  
20:51 mendapatkan wawasan,
pencerapan tentang itu,
  
20:58 bahwa sekarang
adalah waktu dan pikiran.
  
21:13 P: Apakah pencerapan itu
timbul dari dalam otak?
  
21:20 K: Antara timbul dari otak,
datang seiring mencerap lewat mata,
  
21:25 saraf dan sebagainya,
atau pencerapan itu adalah wawasan
  
21:31 yang tak berkaitan sama sekali
dengan waktu dan pikiran.
  
21:39 P: Namun, dia muncul
dari dalam otak?
  
21:42 K: Ya. Atau dari luar otak,
maksud Anda?
  
21:47 P: Ini sangat penting.
 
21:48 K: Saya tahu, maka
saya ingin ini jelas.
  
21:50 Apakah ia terdapat dalam belahan otak
atau ia adalah wawasan itu
  
22:01 yang timbul saat ada
kebebasan dari pengondisian,
  
22:08 yang adalah cara kerja batin,
yang adalah kecerdasan tertinggi.
  
22:13 Mengertikah Anda?
 
22:17 P: Saya tak mengerti.
K: Aha. Mari kita perjelas.
  
22:21 Otak, bagian mana pun,
terkondisi
  
22:28 oleh waktu dan pikiran,
waktu-pikiran.
  
22:33 Selama pengkondisian masih ada,
wawasan tak bisa muncul.
  
22:42 Anda bisa mendapat wawasan sesekali.
Tetapi, wawasan murni,
  
22:49 yang berarti pemahaman
tentang totalitas segala hal
  
22:56 -ya, saya gunakan kata "totalitas",
bukan "keutuhan"
  
23:03 karena kini kata itu
sering sekali digunakan-
  
23:06 wawasan murni adalah
pencerapan seluruhnya. Betul?
  
23:14 Wawasan itu tak
berkaitan dengan waktu-pikiran.
  
23:21 Maka, wawasan itu
adalah bagian dari otak
  
23:25 yang berada
di dimensi berbeda.
  
23:34 P: Tanpa pengelihatan,
tak akan ada wawasan.
  
23:38 K: Itulah yang saya katakan.
 
23:43 P: Jadi, melihat,
mencerap...
  
23:47 Saya pakai "mencerap".
K: Ya, mencerap.
  
23:49 P: Mencerap
-mendengarkan terkandung di dalamnya-
  
23:57 tampaknya adalah inti penting
dari wawasan.
  
24:05 K: Bisa Anda ulangi
pelan-pelan?
  
24:12 P: Mari kita ambil kata "wawasan"
-artinya 'melihat ke dalam'.
  
24:16 K: Ke dalam, melihat ke dalam.
P: Melihat ke dalam.
  
24:23 Melihat ke dalam melihat?
 
24:27 K: Bukan. Melihat ke dalam
-sebentar, mari kita cermati,
  
24:33 Melihat, memahami totalitas
suatu hal,
  
24:44 keluasan dalam suatu hal.
 
24:51 Betul?
 
24:55 Wawasan
hanya mungkin di saat
  
25:02 berhentinya pikiran dan waktu.
 
25:05 Pikiran dan waktu
bersifat terbatas.
  
25:07 Keterbatasan itu
tak bisa mendatangkan wawasan.
  
25:20 P: Untuk memahami
perkataan Anda,
  
25:24 saya harus punya telinga yang mendengar
dan mata yang melihat.
  
25:31 Dari suara, dari wujud,
dari keseluruhan itu...
  
25:39 K: Makna kata-kata itu
dan sebagainya. Ya.
  
25:41 P: ... timbullah pengelihatan
yang melampaui.
  
25:50 Saya berusaha
mencapai sesuatu.
  
25:52 K: Mencapai apa?
Saya tak...
  
25:54 P: Saya berusaha mencapai...
Anda bicara wawasan.
  
26:03 Nah, wawasan tak bisa muncul
tanpa perhatian.
  
26:10 K: Jangan dulu
masukkan kata "perhatian".
  
26:13 P: Atau pengelihatan,
melihat.
  
26:14 K: Bila kita bisa
tetap pada hal yang sama,
  
26:20 wawasan tidak ada
selama waktu-pikiran berperan.
  
26:27 P: Ini seperti mana yang lebih dulu.
Mana yang lebih dulu?
  
26:36 K: Apa maksud Anda?
 
26:37 P: Dalam kondisi sadar,
menurut pendekatan saya,
  
26:43 Saya tak bisa
mulai dari wawasan.
  
26:46 Saya hanya bisa mulai
dari mengamati.
  
26:49 K: Anda hanya bisa mulai
dari menyadari kebenarannya,
  
26:56 bahwa waktu, waktu psikologis dan pikiran
selalu bersifat terbatas.
  
27:02 Itu fakta!
P: Krishnaji, itu fakta.
  
27:07 K: Sebentar, mulai dari situ.
Maka, apa pun yang dilakukannya
  
27:13 akan selalu bersifat terbatas
sehingga selalu kontradiktif,
  
27:16 sehingga terpecah-pecah
dan konflik tiada akhir.
  
27:21 Itulah yang saya katakan.
Anda bisa melihat fakta di dalam itu.
  
27:25 P: Anda bisa melihat fakta itu
di luar diri Anda.
  
27:28 K: Tunggu, tunggu.
Anda bisa melihat secara politis...
  
27:31 P: Bisa di luar
diri Anda.
  
27:32 K: Sebentar. Anda bisa
melihat secara politis, keagamaan,
  
27:35 di penjuru dunia,
ini fakta, bahwa waktu dan pikiran,
  
27:41 dengan cara kerjanya,
telah membawa kehancuran di dunia.
  
27:47 Itu fakta.
P: Ya, ya.
  
27:50 K: Sekarang
 
27:55 pertanyaannya,
dapatkah keterbatasan itu berhenti?
  
28:04 Ataukah manusia
terkondisi selamanya
  
28:08 untuk hidup
di tataran waktu-pikiran?
  
28:12 P: Nah, kesulitan
untuk memahami ini
  
28:17 adalah
apa kaitan sel otak
  
28:25 dan fungsi pancaindera
 
28:30 -saya tak memakai kata "pikiran"
untuk sementara-
  
28:34 dalam pernyataan macam ini,
"Bisakah Anda lihat faktanya
  
28:41 bahwa waktu, pikiran terbatas?"
K: ... terbatas.
  
28:49 P: Apa persisnya artinya,
bagaimana seseorang melihat itu?
  
28:56 Itu seperti memberitahu saya,
bahwa Anda adalah ilusi.
  
29:04 K: Apa?
P: Itu persis seperti memberitahu saya
  
29:08 bahwa Pupul adalah ilusi.
K: Tidak, saya tak berkata begitu.
  
29:11 P: Saya yang mengatakannya.
K: Bukan, Anda bukan ilusi.
  
29:15 P: Tapi Pak, justru persis begitu.
K: Tidak.
  
29:18 P: Sebab saat Anda katakan,
 
29:22 "Bagaimanapun, Pupul
adalah tumpukan psikologis masa lalu..."
  
29:29 K: Gerak psikologis
waktu dan pikiran,
  
29:33 yakni nurani.
P: Yakni nurani.
  
29:36 K: Nurani itu terbatas.
P: ... terbatas.
  
29:40 K: Apa pun yang
dilakukannya, dia terbatas.
  
29:44 P: Lalu saya akan bertanya,
apa salahnya keterbatasan?
  
29:48 K: Tak ada yang salah.
 
29:50 Bila Anda mau hidup dalam
konflik berlarut-larut, tak ada salahnya.
  
29:55 P: Baiklah,
lanjutkan.
  
30:00 Mengakhiri tidaklah sekadar
mengatakan, merasakan bahwa ia terbatas,
  
30:06 namun mesti ada pengakhiran.
K: Saya katakan, ada.
  
30:13 P: Bagaimana sifat
pengakhiran itu?
  
30:16 K: Apa maksud Anda "pengakhiran"?
P: Hanya melihat...
  
30:18 K: Kita ambil kata "pengakhiran".
Saya harus jelas, Anda dan saya,
  
30:22 kita membicarakan, memahami
makna kata yang sama,
  
30:26 bahwa mengakhiri sesuatu
-mengakhiri kemelekatan..., tidak merokok,
  
30:33 tidak melakukan ini atau itu,
mengakhirinya - pengakhiran.
  
30:40 P: Aliran berhenti mengalir.
K: Ya, jika Anda mau...
  
30:46 Gerak pikiran dan waktu
berhenti, secara psikologis.
  
30:56 Apa kesulitan Anda?
 
30:57 Anda membuatnya amat rumit,
padahal sederhana.
  
31:00 P: Ada titik pencerapan
 
31:04 yang merupakan titik wawasan.
Apa titik wawasan itu?
  
31:08 K: Apa maksud Anda
"titik wawasan"?
  
31:10 P: Di mana saya melihatnya...
Pada waktu-ruang apa saya melihatnya?
  
31:16 K: Ayo, Pupul,
kita bicara sederhana saja.
  
31:22 Waktu dan pikiran
telah memecah-mecah dunia,
  
31:26 secara politis, geografis,
religius, itu fakta.
  
31:30 Betul?
 
31:33 Tidakkah Anda lihat fakta ini?
P: Tidak, Pak. Saya melihat di luar...
  
31:36 K: Tunggu, tunggu.
Jangan lihat di luar.
  
31:39 P: Tidak. Saya tak
lihat faktanya.
  
31:41 K: Apa maksud Anda?
 
31:42 P: Sebab jika saya lihat faktanya,
sungguh melihat faktanya...
  
31:46 K: Hentikan tingkah Anda ini.
P: ... semua itu akan berlalu.
  
31:49 K: Itulah yang saya katakan.
P: Pak, jika ini begitu sederhana,
  
31:55 namun saya tak yakin begitu,
karena tipuannya begitu banyak.
  
32:00 K: Tidak. Itulah maksudnya
-saya mengatakan sesuatu
  
32:05 yang mungkin belum kita...
ungkapkan dengan kata lain-
  
32:10 jika Anda mendapat wawasan
bahwa gerak pikiran dan waktu
  
32:15 terpecah-pecah, di tingkat apa pun,
di tataran apa pun,
  
32:20 di wilayah mana pun,
itu adalah gerak konflik tanpa akhir.
  
32:28 Itu fakta. Inggris berperang
demi sebuah pulau, itu fakta.
  
32:39 Sebab Inggris, Inggris,
Prancis, Prancis,
  
32:42 Jerman, Rusia
-mereka semua terpisah-pisah.
  
32:46 Dan India
melawan bangsa lain...,
  
32:48 inilah seluruh gerak
waktu dan pikiran. Itu fakta!
  
32:52 P: Ya. Tapi, Anda bisa melihatnya
jika fakta itu di luar Anda.
  
32:55 K: Itu intinya. Jika Anda bisa
melihat gerak ini di luar Anda,
  
33:01 apa dampaknya terhadap dunia,
derita yang dibawanya di dunia,
  
33:09 maka... Di-dalam,
nurani ini adalah waktu dan pikiran,
  
33:19 adalah gerak
waktu dan pikiran.
  
33:24 Gerak tersebut telah
menimbulkan semua itu!
  
33:29 Sederhana.
 
33:31 Gerak psikologis,
gerak psikologis yang terpecah-pecah
  
33:38 telah menciptakan
fakta di luar kita.
  
33:43 Betul? Saya Hindu,
saya merasa aman.
  
33:49 Saya seorang Jerman, saya merasa
aman dalam kata itu,
  
33:53 dalam perasaan bahwa saya
adalah bagian dari sesuatu.
  
33:56 P: Krishnaji, menurut saya,
semua ini: menjadi Hindu,
  
34:04 serakah, semua itu,
telah dipahami
  
34:10 sebagai hasil
dari gerak waktu-pikiran.
  
34:16 K: Itulah yang saya katakan.
P: Namun, itu kurang...
  
34:21 K: Apa kesulitan Anda,
Pupul?
  
34:22 P: Di dalamnya, terdapat
perasaan bahwa "saya ada".
  
34:31 K: Saya tidak tahu
bahwa nurani seperti itu!
  
34:35 P: Pada dasarnya,
itu adalah sifat ...
  
34:39 K: Lalu mengapa tidak begitu?
Karena -ini cukup sederhana,
  
34:43 mengapa Anda merumitkannya?-
karena saya kira,
  
34:46 nurani berlainan
dengan pengkondisian.
  
34:53 Saya kira ada sesuatu
dalam diri saya.
  
34:56 atau dalam otak, atau di suatu tempat,
yang kekal,
  
35:01 yakni Tuhan,
yakni ini, yakni itu,
  
35:04 dan jika saja saya bisa meraihnya,
semua akan jadi benar.
  
35:09 Itulah bagian
dari pengkondisian saya.
  
35:13 Karena saya tidak pasti,
kebingungan,
  
35:16 Tuhan akan beri keselamatan,
perlindungan, jaminan. Semua itu.
  
35:26 Tuhan atau hukum tertinggi
atau suatu kepercayaan.
  
35:30 P: Apa ciri pokok yang
dapat memunculkan wawasan?
  
35:33 K: Sudah saya katakan.
Wawasan hanya bisa muncul
  
35:38 bila ada kebebasan
dari waktu dan pikiran.
  
35:48 P: Suatu keadaan tanpa pengakhiran...
K: Bukan, bukan itu.
  
35:54 Anda merumitkan fakta yang
sangat sederhan, seperti kebanyakan orang.
  
36:05 Jika kita ingin
hidup damai,
  
36:09 yakni... hidup dalam damai
hanyalah dengan mekar,
  
36:17 dengan memahami
luar biasanya dunia yang damai.
  
36:24 Kedamaian tak bisa diciptakan
dengan pikiran.
  
36:29 P: Anda tahu,
tolonglah pahami, Krishnaji,
  
36:35 otak sendirilah
yang mendengarkan pernyataan tadi.
  
36:41 K: Ya, dia mendengarkan.
Lalu apa yang terjadi?
  
36:45 Tunggu sebentar.
Apa yang terjadi?
  
36:47 Jika dia mendengarkan, dia diam.
P: Dia diam.
  
36:53 K: Dia tidak memamah,
dia tidak menanggapi,
  
36:56 "Demi Tuhan, apa maksudnya?"
Dia tidak mengoceh, dia diam.
  
37:01 Betul?
Tunggu, tunggu.
  
37:04 Jika ia sungguh-sungguh
-bukan dibuat-buat-
  
37:06 sungguh diam saat ia mendengarkan,
dan ada keheningan,
  
37:12 muncullah wawasan.
 
37:18 Saya tak perlu
memaparkan 10 macam
  
37:22 keterbatasan pikiran.
Pikiran memang terbatas.
  
37:30 P: Saya paham maksud Anda.
 
37:37 Adakah yang lebih maju
daripada...
  
37:44 K: Oh ya, ada.
 
37:48 Ada lebih banyak lagi,
 
37:56 yakni
apakah mendengarkan suatu bunyi?
  
38:10 Bunyi di dalam
suatu area.
  
38:14 Ataukah saya mendengarkan
perkataan Anda
  
38:19 tanpa bunyi verbal?
 
38:29 Jika ada bunyi verbal,
saya tidak mendengarkan.
  
38:34 Saya sekadar memahami kata-kata.
 
38:37 Namun, Anda ingin sampaikan pada saya
lebih dari sekadar kata-kata,
  
38:43 jadi, jika kata-kata menimbulkan
bunyi di pendengaran saya,
  
38:50 saya tak bisa memahami
perkataan Anda secara mendalam.
  
39:00 Maka, saya ingin menemukan
sesuatu yang lebih...
  
39:07 yang menjadi awal kita,
masa kini.
  
39:13 Masa kini adalah sekarang,
 
39:16 masa sekarang adalah keselutuhan
gerak waktu-pikiran. Betul?
  
39:23 Itu keseluruhan strukturnya.
 
39:31 Jika struktur waktu
dan pikiran berhenti,
  
39:37 masa sekarang akan
mengandung makna yang sangat berbeda.
  
39:43 Maka, masa sekarang
adalah ketiadaan.
  
39:50 Maksud saya, saat kita
gunakan kata "ketiadaan",
  
39:57 nol mengandung semua angka.
Betul?
  
40:01 Artinya, ketiadaan
mengandung semuanya.
  
40:10 Namun, kita takut
menjadi tiada.
  
40:15 P: Saat Anda mengatakan,
ketiadaan mengandung semua,
  
40:19 apakah, maksud Anda,
itu esensi umat manusia,
  
40:27 esensi rasial, lingkungan,
dan lingkungan, dan kosmos, seperti itu?
  
40:34 K: Tidak, saya lebih suka...
Anda tahu, saya bicara fakta
  
40:40 tentang menyadari
bahwa ada ketiadaan.
  
40:52 Nurani merupakan tumpukan
ingatan, betul?
  
40:56 Dan ingatan itu
sudah mati.
  
41:00 Ingatan bekerja, berfungsi,
namun mereka adalah luaran
  
41:04 dari pengalaman lampau
yang telah lewat.
  
41:10 Saya adalah gerak ingatan.
Betul?
  
41:14 Nah, jika saya punya wawasan tentang itu,
itulah ketiadaan.
  
41:22 Saya tidak ada.
 
41:27 P: Anda menyebut bunyi.
 
41:31 K: Ya.
P: Dan mendengarkan.
  
41:36 K: Mendengarkan tanpa bunyi.
Anda lihat keindahan di dalamnya?
  
41:43 P: Ya, itu mungkin
bila batin itu sendiri sungguh hening.
  
41:49 K: Tidak, jangan masukkan
batin dahulu.
  
41:51 Ketika otak hening,
benar-benar hening,
  
41:54 maka tak ada bunyi
yang ditimbulkan kata-kata.
  
42:02 P: Tidak ada bunyi
yang ditimbulkan kata-kata.
  
42:05 k: Tentu.
Itu mendengarkan yang sesungguhnya.
  
42:10 Kata-kata telah memberi saya
apa yang ingin Anda ungkapkan. Betul?
  
42:14 Anda ingin memberitahu saya,
"Saya akan berangkat siang ini."
  
42:18 Saya mendengarkan...
 
42:19 P: Namun, otak belum aktif
saat mendengarkan.
  
42:21 K: Ya.
 
42:24 Dan otak, saat aktif,
ada keriuhan, ada bunyi.
  
42:33 Mari kita kembali ke hal yang lebih
-kita akan menyertakan,
  
42:36 kembali ke bahasan
bunyi ini karena
  
42:38 ini sangat menarik,
apa itu bunyi.
  
42:44 Bunyi hanya ada,
bunyi murni hanya ada
  
42:49 ketika terdapat ruang dan keheningan.
Jika tidak, timbullah keriuhan.
  
43:07 Jadi, saya ingin kembali
ke pertanyaan tadi:
  
43:15 semua pendidikan seseorang,
semua pengalaman lampau
  
43:21 dan pengetahuan
adalah gerak proses-menjadi,
  
43:27 baik ke-dalam, secara psikologis,
maupun ke-luar.
  
43:35 Proses-menjadi
adalah akumulasi ingatan.
  
43:44 Betul?
 
43:46 Lebih dan lebih dan lebih banyak ingatan,
yang disebut pengetahuan.
  
43:53 Betul?
 
43:55 Kini, sepanjang gerak itu
masih ada,
  
44:02 ada rasa takut
akan menjadi-tiada.
  
44:10 Tapi, ketika seseorang sungguh
melihat wawasan
  
44:15 bahwa ada kepalsuan, ilusi
tentang menjadi sesuatu,
  
44:18 maka pencerapan itu,
wawasan itu,
  
44:22 melihat bahwa terdapat ketiadaan,
bahwa proses-menjadi adalah waktu-pikiran
  
44:29 dan konflik tanpa akhir,
terdapat pengakhiran di situ.
  
44:34 Yakni, pengakhiran gerak
yang adalah nurani,
  
44:40 yang adalah waktu-pikiran.
 
44:42 Pengakhiran tersebut
adalah menjadi-tiada.
  
44:50 Betul?
 
44:53 Maka, tiada itu
mencakup keseluruhan jagad raya.
  
44:59 Bukan ketakutan remeh saya,
bukan kecemasan dan masalah remeh saya,
  
45:07 bukan kesedihan saya
atas -Anda tahu- lusinan hal.
  
45:15 Bagaimanapun, Pupulji,
ketiadaan bermakna
  
45:22 seluruh dunia dengan welas asih.
Welas asih adalah tiada.
  
45:33 Dengan demikian, tiada itu
adalah kecerdasan tertinggi.
  
45:38 Itu semualah
yang ada.
  
45:43 Saya tak tahu apakah
saya menyampaikan ini.
  
45:46 Nah, mengapa manusia
-kebanyakan manusia, cerdas-
  
45:53 takut akan menjadi-tiada?
 
46:01 Jika saya melihat, sesungguhnya
saya adalah ilusi verbal,
  
46:09 bahwa saya bukan apa-apa,
hanya ingatan lampau, itu fakta!
  
46:19 Namun, saya tak suka membayangkan,
saya tak lebih daripada ingatan lampau.
  
46:25 Namun kebenarannya,
saya adalah ingatan.
  
46:29 Jika saya tak punya ingatan,
antara saya berada dalam kondisi amnesia
  
46:36 atau saya telah memahami seluruh
gerak ingatan, yakni waktu-pikiran,
  
46:41 dan melihat fakta ini:
selama gerak ini masih ada,
  
46:45 pasti timbul konflik,
pergulatan, kepedihan tanpa akhir.
  
46:51 Dan ketika timbul
wawasan tentang hal itu,
  
46:55 ketiadaan bermakna
sesuatu yang sama sekali berbeda.
  
47:00 Dan ketiadaan itu
adalah masa kini.
  
47:07 Itu bukanlah
masa kini yang bervariasi,
  
47:12 bukan suatu hari, yang ini;
lalu esoknya, yang lain lagi.
  
47:18 Menjadi-tiada
adalah tanpa waktu,
  
47:22 maka itu bukanlah menutup satu hari
lalu membuka hari lainnya.
  
47:32 Anda tahu, benar-
benar menarik
  
47:34 jika seseorang mendalami persoalan ini,
bukan secara teoretis, namun nyata-nyata.
  
47:41 Ahli astrofisika berupaya
memahami jagad raya.
  
47:48 Mereka hanya paham
tentang gas dan...,
  
47:53 namun bukan kebesaran jagad raya,
sebagai bagian umat manusia,
  
48:05 bukan di luar sana,
melainkan di sini.
  
48:12 Ini berarti.. Pasti tak ada
bayang-bayang waktu dan pikiran.
  
48:23 Pupul, bagaimanapun,
itulah meditasi sesungguhnya,
  
48:26 itulah makna "shunya"
dalam bahasa Sansekerta.
  
48:34 Namun, kita telah menafsirkannya
dengan puluhan, ratusan cara
  
48:37 komentar berbeda,
tentang ini-itu,
  
48:39 namun fakta sebenar-benarnya ialah
kita adalah tiada! Kecuali kata-kata.
  
48:47 Dan pendapat, penilaian
-semua itu hal remeh
  
48:52 sehingga hidup kita pun
menjadi remeh.
  
49:03 Artinya, menangkap, memahami
bahwa dalam nol,
  
49:10 terkandung semua angka.
 
49:14 Betul? Maka, dalam ketiadaan,
seluruh dunia
  
49:18 -bukan kepedihan dan sebagainya...
semua itu hanya hal kecil.
  
49:30 Saya tahu, ini terdengar...
Saat saya menderita,
  
49:33 hanya itulah
yang ada pada saya.
  
49:39 Atau ketika rasa takut timbul,
itulah satu-satunya yang ada.
  
49:43 Namun, saya tidak melihatnya
sebagai hal kecil remeh!
  
49:59 Maka, setelah mendengarkan semua ini,
apa yang Anda sadari?
  
50:15 Jika Anda bisa menuangkannya
dalam kalimat, Pupulji, itu cukup bagus.
  
50:20 Apakah yang Anda
dan orang-orang yang akan mendengarkan
  
50:25 semua perkataan ini
-bisa jadi sampah, bisa jadi kebenaran-
  
50:30 yang akan
mendengarkan semua ini,
  
50:32 apa yang mereka
tangkap, sadari,
  
50:36 lihat dalam besarnya
semua ini?
  
50:59 P: Sesungguhnya ini adalah pengakhiran
dari ciri-ciri psikologis "diri"
  
51:11 karena proses-menjadi...
K: Tunggu sebentar, Pupulji,
  
51:14 saya mengajukan pertanyaan tadi
karena akan sangat membantu kita
  
51:19 jika Anda bisa,
seraya mendengarkan,
  
51:25 apa respons Anda,
apa reaksi Anda,
  
51:28 apa yang Anda sadari, apa yang
membuat Anda... berujar, "Demi Tuhan!
  
51:32 Saya dapat, saya mendapatkan
keharumannya!"
  
51:37 P: Pak, ini sangat...
Jangan tanyakan itu pada saya
  
51:43 karena apa pun jawaban saya
akan terdengar...
  
51:56 Karena seraya Anda bicara,
ada suatu kebesaran.
  
52:08 K: Ya.
 
52:11 Sekarang tunggu dulu.
Itu ada, saya dapat merasakannya.
  
52:17 Ada tegangan
yang ditimbulkannya.
  
52:20 Namun, apakah itu sementara,
apakah untuk saat ini,
  
52:25 untuk sedetik
kemudian itu lenyap?
  
52:30 Kemudian semua
urusan mengingat itu,
  
52:33 menangkap itu,
mengundangnya...
  
52:35 P: Oh tidak, saya pikir, seseorang
telah beralih dari situ, paling tidak.
  
52:46 Dan hal berikutnya
yang disadari yaitu
  
52:52 hal tersulit di dunia adalah
menjadi sederhana sepenuhnya.
  
52:59 K: Menjadi sederhana,
itu benar.
  
53:04 Jika seseorang benar-benar sederhana,
dari situ, Anda bisa memahami
  
53:09 kompleksitas yang sangat rumit
dalam suatu hal.
  
53:12 Namun, kita mulai
dari segala kerumitan
  
53:14 dan tak pernah
melihat kesederhanaannya.
  
53:19 Itulah latihan kita.
 
53:24 Kita telah melatih otak
untuk melihat kerumitan
  
53:28 dan berupaya mencari
jawab atas kerumitan itu.
  
53:35 Namun, kita tak melihat
betapa sederhananya kehidupan
  
53:44 -fakta, lebih tepat.
 
53:52 P: Dalam tradisi India,
jika saya boleh bergeser sedikit...
  
53:55 K: Dengan senang hati.
 
53:57 P: Dari bunyi, timbullah segala elemen,
semua Panchamahabhutas.
  
54:08 K: Anda tahu...
 
54:12 P: Bunyi yang bergaung
namun tidak terdengar.
  
54:20 K: Itu dia,
itu dia.
  
54:28 Bagaimanapun, Pupulji,
khususnya dalam tradisi India,
  
54:36 sejak Buddha hingga Nagarjuna,
dan masa Hindu kuno,
  
54:43 telah disebutkan adanya
tataran ketiadaan,
  
54:48 yang di dalamnya, menurut mereka,
Anda harus mengingkari semua hal.
  
54:54 Nagarjuna berkata -ia sampai
pada titik itu, sejauh saya paham,
  
54:58 saya bisa keliru
tentang yang saya dengar ini-
  
55:03 bahwa ia mengingkari segalanya,
segala gerak nurani.
  
55:12 P: Segala gerak sel-sel otak
dalam proses-menjadi.
  
55:17 K: Ya, ya.
 
55:19 Nah, itu dikatakan dalam kitab
atau termuat dalam tradisi.
  
55:27 Mengapa mereka
tidak mengejar hal itu?
  
55:31 Bahkan yang paling cerdas
dari antara mereka,
  
55:35 yang paling berbakti
-bukan pada struktur tertentu,
  
55:42 melainkan perasaan-keilahian,
rasa-yang-kudus-
  
55:52 mengapa mereka tidak mengejarnya,
pengingkaran -bukan atas dunia,
  
55:57 Anda tak bisa mengingkari dunia.
Mereka telah mengingkari dunia
  
56:03 dan membuat hidup
mereka sendiri berantakan!-
  
56:08 melainkan meniadakan
"si-aku" secara total.
  
56:16 P: Sungguh, menolak-yang-duniawi
-izinkan saya gunakan kata ini-
  
56:24 artinya meniadakan "si-aku".
 
56:29 K: Ya, tapi "si-aku" tetap ada!
Saya bisa mengingkari rumah saya,
  
56:38 Saya bisa lari
dari ingatan -Anda paham?
  
56:42 P: Pada dasarnya, penolakan-terhadap-
yang-duniawi tidak pernah di-luar.
  
56:46 K: Di-dalam. Yang artinya apa?
Jangan melekat.
  
56:51 Bahkan pada
keyakinan tertinggi Anda.
  
56:59 Jangan melekat
pada cawat Anda.
  
57:05 Jadi menurut saya, yang terjadi
adalah kita terperangkap
  
57:12 sungguh terperangkap dalam jaring kata-
kata, dalam teori, bukan aktualitas.
  
57:20 Saya menderita, saya harus
temukan jalan untuk mengakhirinya,
  
57:26 bukan melarikan diri
ke semacam ilusi konyol.
  
57:31 Mengapa umat manusia tidak juga
menghadapi fakta dan mengubah fakta?
  
57:40 Anda paham
pertanyaan saya?
  
57:43 Apakah karena kita hidup
dalam ilusi tentang gagasan,
  
57:51 impian, kesimpulan,
dan semua itu -angan-angan?
  
58:03 Ini sangat jelas,
semua ini.
  
58:04 P: Kita hidup
dengan sejarah umat manusia.
  
58:08 Itulah sejarah umat manusia.
K: Itulah sejarah umat manusia.
  
58:11 Dan umat manusia
adalah saya.
  
58:14 Dan adalah ini
-derita tanpa akhir.
  
58:29 Bila Anda ingin mengakhiri
penderitaan, akhirilah "si-aku".
  
58:36 Pengakhiran "si-aku"
bukanlah tindakan keinginan.
  
58:41 Pengakhiran "si-aku"
bukanlah hasil berpuasa
  
58:45 -Anda tahu semua
urusan kekanak-kanakan
  
58:47 yang telah dilalui
umat manusia,
  
58:50 yang disebut
"orang kudus".
  
58:55 P: Sesungguhnya itu
pengakhiran waktu bukan, Pak?
  
58:57 K: Ya. Bukankah begitu?
 
59:00 Pengakhiran waktu-pikiran.
 
59:02 Ini berarti
mendengarkan tanpa bunyi,
  
59:07 mendengarkan jagad raya
tanpa bunyi apa pun.
  
59:32 Kami bercakap-cakap
baru-baru ini di New York,
  
59:36 dan ada seorang pria,
seorang dokter
  
59:39 -saya yakin ia
sangat terkemuka.
  
59:45 Ia bilang, semua
pertanyaan ini benar, Pak;
  
59:47 namun persoalan paling
mendasar, apakah sel-sel otak
  
59:54 yang telah
terkondisi
  
59:56 bisa benar-benar melakukan
mutasi pada dirinya sendiri?
  
1:00:01 Maka, semuanya pun
menjadi sederhana.
  
1:00:06 Saya jawab, itu hanya dapat
terjadi melalui wawasan
  
1:00:13 dan kami mendalaminya,
seperti kita mendalaminya sekarang.
  
1:00:20 Anda tahu, tak seorang pun
mau mendengarkan ini hingga tuntas.
  
1:00:28 Mereka mendengarkan sebagian,
menerima
  
1:00:33 berjalan bersama hingga jarak
tertentu, lalu berhenti di situ.
  
1:00:43 Jika manusia sungguh berkata,
"Saya harus damai di dunia,
  
1:00:49 maka saya harus
hidup dengan damai,"
  
1:00:52 maka tercipta
kedamaian di dunia.
  
1:00:55 Namun, ia tak mau
hidup dalam damai,
  
1:00:58 semua tindakannya
berlawanan dengan itu:
  
1:01:03 ambisi, keangkuhan, ketakutannya
yang remeh, dan semua itu.
  
1:01:15 Jadi, kita telah mereduksi
keluasan semua ini
  
1:01:20 menjadi reaksi-reaksi remeh.
Sadarkah Anda akan hal itu, Pupul?
  
1:01:29 Dan kita pun menghidupi
hidup yang remeh:
  
1:01:35 Maksud saya, ini berlaku
dari yang teratas hingga terbawah.
  
1:02:04 P: Apa itu bunyi
menurut Anda, Pak?
  
1:02:13 K: Bunyi adalah pohon.
 
1:02:24 Bunyi -tunggu sebentar-
ambil contoh musik,
  
1:02:31 entah nyanyian puji-
pujian India yang murni,
  
1:02:38 nyanyian pujian Weda,
dan nyanyian pujian Gregorian,
  
1:02:44 ketiganya saling
berkait erat.
  
1:02:49 Dan seseorang mendengarkan
semua nyanyian pujian itu
  
1:02:54 -yang adalah,
Anda tahu apa itu...-
  
1:02:58 Lalu Anda mendengarkan
bunyi ombak,
  
1:03:05 bunyi angin kencang
di sela pepohonan,
  
1:03:10 bunyi orang yang telah tinggal
bersama Anda bertahun-tahun.
  
1:03:18 Anda menjadi terbiasa
dengan itu semua.
  
1:03:24 Namun, jika Anda tidak menjadi
terbiasa dengan itu semua,
  
1:03:30 bunyi pun menjadi
punya makna luar biasa.
  
1:03:41 Maka, Anda mendengar
semuanya segar.
  
1:03:47 Katakanlah, Anda memberitahu
saya, waktu dan pikiran
  
1:03:53 adalah seluruh gerak dalam
hidup manusia, maka terbatas.
  
1:04:00 Nah, Anda telah menyampaikan
pada saya sebuah fakta sederhana,
  
1:04:08 dan saya
mendengarkannya.
  
1:04:10 Saya mendengarkannya
tanpa bunyi kata-kata itu,
  
1:04:15 saya telah menangkap betapa
pentingnya, dalamnya pernyataan Anda.
  
1:04:24 Dan saya tak mungkin
melupakannnya!
  
1:04:27 Itu bukanlah mendengar saat ini
lalu melupakannya begitu saya keluar.
  
1:04:34 Saya telah mendengarkannya
dalam kepenuhannya.
  
1:04:39 Artinya, bunyi telah menghantarkan
fakta bahwa demikianlah adanya.
  
1:04:48 Dan yang demikian adanya
adalah yang mutlak, selalu.
  
1:04:58 Saya yakin,
dalam tradisi Ibrani,
  
1:05:04 hanyalah Yahweh, yang-tak-bernama,
yang bisa berkata "saya ada",
  
1:05:11 sebagaimana "Tatvamasi"
dan sebagainya dalam Sansekerta.
  
1:05:23 Saya pikir,
ini cukup.