Krishnamurti Subtitles

Kebaikan hanya mekar dalam kebebasan

San Diego - 17 February 1972

Conversation with Eugene Shallert 1



0:02 Krishnamurti dalam dialog
dengan Pastor Eugene Schallert.
  
0:07 J. Krishnamurti lahir di India Selatan dan
dididik di Inggris.
  
0:12 Selama 40 tahun dia telah
berbicara di Amerika Serikat,
  
0:16 Eropa, India, Australia dan
di belahan dunia lainnya.
  
0:21 Sejak awal pekerjaan hidupnya,
dia menolak semua hubungan
  
0:24 dengan agama dan
ideologi terorganisir
  
0:27 dan berkata bahwa satu-satunya
keprihatinannya
  
0:29 adalah untuk secara absolut
membebaskan manusia dari keterkondisian.
  
0:33 Dia penulis banyak buku,
di antaranya
  
0:36 The Awakening of Intelligence,
The Urgency of Change,
  
0:40 Freedom from the Known,
dan The Flight of the Eagle.
  
0:45 Yang berdialog dengan Krishnamurti
adalah Pastor Eugene J. Schallert
  
0:49 dari Serikat Yesus,
Direktur Pusat Riset
  
0:52 Sosiologi Universitas San Francisco
 
0:56 di mana Pastor Schallert menjadi
Profesor Muda Sosiologi.
  
1:02 S: Saya pikir sebaiknya kita mulai
dengan menyelidiki bersama
  
1:09 suatu penemuan tentang hal yang amat
nyata di dunia yang kita tinggali ini
  
1:18 dan bagaimana kita belajar memandang
hal yang sangat nyata tersebut.
  
1:24 K: Pak, apakah menurut Anda,
 
1:31 dalam memandang dengan sangat jelas
 
1:35 seluruh kompleksitas persoalan manusia,
 
1:39 tidak hanya yang politis,
religius, sosial,
  
1:44 tapi juga moralitas batin,
 
1:51 suatu rasa yang-lain
-kalau boleh kita memakai kata itu-
  
1:58 tidakkah seseorang harus
memiliki kebebasan menyeluruh?
  
2:06 S: Ya, menurut saya, tak mungkin
seseorang bisa menyelidiki
  
2:10 apa pun yang relevan
dengan dunia yang kita tinggali ini
  
2:14 tanpa pengakuan atau kesadaran
akan kebebasan batinnya sendiri.
  
2:20 Merasakan bahwa kita terbatas
atau terkungkung dalam pendekatan kita
  
2:29 terhadap persoalan-persoalan sosial,
ekonomi, politik, moral
  
2:32 -khususnya persoalan-
persoalan religius kita-
  
2:34 bahwa kita tidak dapat
menyelidikinya dari basis selain
  
2:37 basis yang riil,
yaitu basis kebebasan.
  
2:43 K: Tapi, kebanyakan agama dan
kebanyakan kebudayaan,
  
2:47 entah Asia, India atau Eropa
dan dengan demikian Amerika,
  
2:53 mereka mengkondisikan
batin banyak sekali.
  
2:58 Dan Anda memperhatikannya,
saat seseorang berkeliling,
  
3:04 bagaimana, di tiap negeri,
di tiap kebudayaan,
  
3:10 mereka telah berupaya
sangat keras membentuk batin.
  
3:16 S: Saya kira ini adalah fungsi
kebudayaan, membentuk batin,
  
3:19 -tidak terlalu efektif- tapi,
fungsi kebudayaan adalah menyediakan,
  
3:24 dalam arti tertentu, penyangga
di antara dimensi-dimensi luar biasa
  
3:28 dari eksistensi manusia, yang kemudian
melampaui dan mencakup semua eksistensi
  
3:35 dan yang menjadi pengalaman
luar biasa bagi seseorang.
  
3:39 Budaya, dalam arti tertentu, melembutkan
atau mencoba membuat dapat dikelola
  
3:45 atau dapat dilaksanakan
dengan suatu cara atau lainnya.
  
3:47 K: Tapi, sebenarnya menurut saya,
saat seseorang merenungkan
  
3:53 bagaimana dunia ini dibelah-belah
secara politik, religius, sosial,
  
4:00 moral, dan khususnya di bidang religius
 
4:05 yang seharusnya merupakan
faktor pemersatu semua kebudayaan,
  
4:12 di situ seseorang melihat bagaimana
agama telah memisahkan manusia:
  
4:20 Katolik, Protestan,
Hindu, Muslim,
  
4:23 dan mereka semua mengatakan,
"Kita semua mencari satu hal."
  
4:28 S: Bahkan di dalam kerangka
agama apa pun,
  
4:31 ada tendensi besar orang untuk
membelah-belah satu subkelompok
  
4:35 melawan subkelompok lainnya
dan tampaknya wajar...
  
4:40 K: Maka, kebebasan
adalah penyangkalan
  
4:48 terhadap pengkondisian
oleh kebudayaan apa pun,
  
4:53 oleh pembelah-belahan religius
atau pembelah-belahan politis apa pun.
  
4:58 S: Saya pikir kebebasan tertinggi adalah
penyangkalan terhadap kondisi sedemikian.
  
5:03 Perjuangan untuk kebebasan,
 
5:05 persisnya, adalah usaha
menerobos atau melemahkan
  
5:10 atau mendapatkan hal yang mendasari
proses pengkondisian yang beragam ini.
  
5:14 Proses pengkondisian itu sendiri
 
5:17 berlangsung dalam tiap manusia
atau dalam tiap bunga atau tiap hewan
  
5:24 dan tugas dalam mengejar
kebebasan ini, persisnya, adalah
  
5:28 menerobos ke dalam kebenaran yang pokok.
 
5:34 K: Saya hanya ingin tahu, apa
yang kita maksud dengan pengkondisian.
  
5:38 S: Pengkondisian dalam kebudayaan,
sepanjang sejarah
  
5:42 dan melintasi ruang,
Anda tahu, cukup beragam.
  
5:48 Pengkondisian, misalnya, di
dunia Barat sekarang ini,
  
5:53 telah dicapai terutama
melalui suatu proses
  
5:56 pencerahan dari proses-
proses yang logis-rasional
  
6:01 yang saya anggap produktif.
 
6:03 Tanpa proses-proses rasional,
kita tidak akan
  
6:06 menyalakan kamera televisi.
Pada saat bersamaan,
  
6:08 dengan kamera televisi,
mungkin kita tak melihat apa pun.
  
6:11 Jadi, saya menduga bahwa apa
yang kita hadapi, di dunia ini,
  
6:16 sebagai agen utama pengkondisian,
adalah keseluruhan dunia
  
6:20 dari beragam pikiran
atau kategori atau konsep
  
6:25 atau konstruk -saya
menyebutnya fantasi-
  
6:27 yang dihadapi orang dan, entah
bagaimana, mereka pikir itu nyata.
  
6:31 K: Ya, Pak. Tapi, bukankah
pengkondisian ini memisahkan manusia?
  
6:38 S: Tak diragukan lagi. Ini memisahkan
manusia, baik di dalam dirinya
  
6:41 K: ... maupun secara lahiriah.
S: Ya.
  
6:44 K: Jadi, kalau kita prihatin akan
perdamaian, berakhirnya perang,
  
6:52 akan kehidupan di dunia
di mana kekerasan mengerikan ini,
  
7:00 pemisahan, kebrutalan,
dan sebagainya harus berakhir,
  
7:07 menurut saya, itu adalah fungsi
siapa pun yang religius dan serius
  
7:14 karena saya rasa religi adalah
satu-satunya faktor pemersatu manusia.
  
7:20 S: Ya.
 
7:21 K: Bukan politik, ekonomi, dan
sebagainya, melainkan faktor religius.
  
7:28 Dan alih-alih mempersatukan manusia,
 
7:33 agama telah memisahkan manusia.
 
7:37 S: Saya tidak yakin itu benar.
Saya pikir, agama
  
7:41 telah didefinisikan oleh kebudayaan
sebagai kekuatan pemersatu manusia.
  
7:47 Tak banyak bukti dalam sejarah
 
7:49 bahwa hal ini, fungsi ini pernah terwujud.
 
7:53 Mungkin ini juga merupakan fungsi
dari dimensi yang membatasi
  
7:57 dari agama tertentu, atau
ketidakmampuan orang-orang beragama
  
8:01 untuk mentransendensikan
konsep-konsep religius mereka
  
8:05 atau legenda religius mereka
atau mitos-mitos atau dogma,
  
8:07 seperti apa pun Anda menyebutnya.
 
8:09 Faktanya, terdapat dasar yang lebih
mendalam untuk persatuan.
  
8:16 K: Seseorang tidak bisa lebih mendalam
kalau tidak bebas dari yang luar.
  
8:22 Batin saya tidak akan menjangkau
sangat, sangat dalam
  
8:26 kalau tidak ada kebebasan
dari kepercayaan, dari dogma.
  
8:30 S: Saya pikir itu benar dalam arti
tertentu. Haruslah ada dalam diri manusia
  
8:38 -kesadaran, pengalaman,
sesuatu-
  
8:42 suatu rasa kebebasan batin
sebelum dia bisa betul-betul religius,
  
8:48 sebelum dia bisa mengizinkan kategori
agama sebagai kategori analitis
  
8:52 yang memiliki arti baginya.
 
8:54 Bagaimanapun, dia haruslah manusiawi
dan bebas sebelum dia bisa berpikir
  
8:58 dirinya adalah religius. Yang telah
terjadi justru sebaliknya.
  
9:02 K: Ya, ya. Karena itu, kita berkata,
melihat seperti apa dunia ini sekarang
  
9:06 secara aktual, bukan konseptual,
melainkan fakta aktual dari pemisahan,
  
9:15 peperangan, kekerasan mengerikan
yang melanda dunia,
  
9:23 Saya merasa, batin
yang religiuslah yang bisa membawa
  
9:28 persatuan sejati bagi umat manusia.
 
9:31 S: Menurut saya, lebih tepat batin manusia
atau batin-yang-memandang,
  
9:36 yang mungkin peka akan
kegembiraan besar, jika Anda setuju,
  
9:42 tidak dalam arti suatu rangsang, tapi
kegembiraan besar yang berhubungan
  
9:45 dengan fenomena
kodrat dirinya sendiri,
  
9:48 yang bisa mengumpulkan orang
untuk mencapai pengakhiran konflik...
  
9:53 K: Bisakah kita dekati itu dengan
bertanya, apa yang memisahkan manusia?
  
9:59 Apa yang membelah-belah umat manusia?
 
10:05 S: Pada pokoknya saya pikir, ke-orang-an.
K: Kepicikan?
  
10:08 S: Ke-orang-an.
 
10:09 K: Apa yang Anda maksud
dengan ke-orang-an?
  
10:12 S: Yang saya maksud dengan itu adalah
kecenderungan kita untuk menganggap kita
  
10:16 sebagai orang atau manusia,
ketimbang sebagai keberadaan,
  
10:20 memisahkan kita dari dunia yang kita huni
 
10:24 -dari pohon, bunga, matahari
terbenam, laut, danau, sungai,
  
10:28 hewan, burung, ikan,
dan satu sama lain pada pokoknya.
  
10:34 K: Artinya, dari satu sama lain.
S: Ya, pokoknya dari satu sama lain.
  
10:37 K: Dari satu sama lain. Dan itu
diperkuat oleh, atau melalui,
  
10:48 agama-agama yang separatif ini.
 
10:52 Saya ingin mendapatkan
sesuatu, Pak, yaitu,
  
10:58 apakah realitas atau kebenaran
 
11:04 untuk didekati melalui agama tertentu
 
11:08 atau itu bisa didekati
atau bisa dipahami hanya
  
11:16 ketika kepercayaan dan propaganda
agama yang terorganisir, dogma,
  
11:22 dan seluruh cara hidup konseptual,
secara lengkap selesai?
  
11:27 S: Saya tidak yakin apakah cocok
menyebut itu harus secara lengkap selesai
  
11:31 karena ada banyak
alasan lain yang mendahului
  
11:35 pertama-tama fenomena
menjadi manusia, atau
  
11:40 pertama-tama
sederhananya, keberadaan.
  
11:41 Jika kita hendak memahami
pertanyaan tentang kebenaran,
  
11:45 yakni pertanyaan tentang
pemahaman atau melihat,
  
11:49 pertama-tama, kita harus sampai
pada pertanyaan tentang keberadaan
  
11:53 dan seluruh dinamika batin
dan karakter keberadaan yang berevolusi.
  
11:58 Jika pada permulaannya, kita
tidak bisa mencapai level itu,
  
12:02 kita benar-benar tak akan
paham nilai apa pun di dalam
  
12:06 "ajaran" yang ditawarkan
berbagai agama bagi manusia.
  
12:12 Jika ajaran-ajaran itu tidak
relevan dengan eksistensi,
  
12:14 dengan keberadaan, dengan melihat,
dengan memahami, dengan mencintai,
  
12:18 atau dengan pengakhiran konflik,
dalam artian negatif,
  
12:21 maka ajaran-ajaran itu betul-betul
tak relevan bagi manusia, tidak penting.
  
12:28 K: Saya setuju. Tapi faktanya
tetap saja, Pak, lihat saja,
  
12:32 faktanya tetap saja, jika seseorang
terlahir sebagai Hindu atau Muslim
  
12:38 dan dia dikondisikan oleh itu,
dalam kultur itu
  
12:42 dalam pola perilaku itu,
dan dikondisikan
  
12:48 oleh serangkaian kepercayaan,
dipaksa, dibudidayakan dengan cermat
  
12:56 oleh berbagai ordo religius,
sanksi-sanksi, buku-buku, dan sebagainya,
  
13:04 dan yang lainnya dikondisikan
oleh Kristianitas,
  
13:10 di situ tidak ada titik temu,
selain secara konseptual.
  
13:15 S: Krishnaji, apakah maksud Anda,
dalam rangka manusia menjadi bebas,
  
13:22 dia harus melepaskan dirinya sendiri
dari agama apapun-
  
13:27 dan terutama agamanya-
juga dari doktrin politik dan kultural
  
13:32 dan sosial atau dogma
atau mitos yang sudah terkait dengannya
  
13:35 dengan dirinya sebagai
orang yang religius?
  
13:38 K: Itu benar.
Karena Anda tahu, bagaimanapun juga,
  
13:40 apa yang penting dalam hidup
adalah kesatuan,
  
13:47 keselarasan
di antara umat manusia.
  
13:52 Itu hanya bisa terjadi
apabila ada harmoni di dalam tiap orang.
  
13:57 Dan harmoni itu tidak mungkin
jika ada bentuk pemecah-mecahan
  
14:03 di dalam dan di luar
-eksternal atau internal.
  
14:08 Eksternal, jika di situ ada
pemecah-mecahan secara politik,
  
14:13 pembagi-bagian secara geografis,
pembelah-belahan kebangsaan,
  
14:16 tak pelak lagi,
di situ ada konflik.
  
14:19 Dan jika di situ ada
pemecah-mecahan secara batin,
  
14:22 tak pelak lagi, hal itu membiakkan
konflik yang dahsyat,
  
14:28 yang mengungkapkan diri dalam kekerasan,
kekejaman, sifat agresif, dsb.
  
14:35 Jadi, umat manusia
dibesarkan dalam cara ini.
  
14:39 Hindu, Muslim berlawanan
satu sama lain sepanjang waktu,
  
14:44 atau Arab dan Jahudi,
 
14:46 atau orang Amerika, orang Rusia
-pahamkah Anda?- ini secara lahiriah.
  
14:49 S: Saya pikir, apa yang kita hadapi
di sini justru bukanlah
  
14:53 pemberlakuan harmoni terhadap
umat manusia dari luar
  
14:57 ataupun pemberlakuan ketidakselarasan
terhadap umat manusia.
  
15:01 Tangan saya selaras sempurna
satu sama lain, jari-jari bergerak bersama
  
15:05 dan mata saya bergerak
bersama dengan tangan.
  
15:08 Bisa jadi ada konflik dalam batin saya
atau antara batin dengan perasaan saya
  
15:14 sebab sejauh ini, saya menginternalisasi
konsep tertentu yang nantinya berkonflik.
  
15:19 K: Itu betul.
 
15:20 S: Apa yang harus saya temukan
agar saya bebas...
  
15:24 adalah adanya fakta
harmoni di dalam saya.
  
15:28 Dan jika ingin menjadi satu dengan Anda
saya harus menemukannya dari tangan saya
  
15:33 "Tangan, katakan pada saya seperti apa
menjadi bagian dari sesuatu."
  
15:37 Karena tangan saya sudah eksis
secara harmonis dengan lengan saya
  
15:41 dan dengan tubuh saya,
dan dengan Anda.
  
15:44 Tapi kemudian batin saya membentuk
dualitas yang asing ini.
  
15:47 K: Itulah masalahnya, Pak.
 
15:49 Apakah dualitas ini
terbentuk secara artifisial, pertama-tama-
  
15:57 karena Anda seorang Protestan,
saya seorang Katolik,
  
16:00 atau saya seorang komunis
dan Anda seorang kapitalis-
  
16:03 apakah mereka terbentuk secara artifisial
 
16:07 sebab tiap masyarakat
mempunyai kepentingan pribadi,
  
16:13 setiap kelompok mempunyai
bentuk keamanan tertentu?
  
16:24 Atau pemecah-mecahan tercipta
dalam diri seseorang
  
16:32 oleh si-aku dan si-bukan-aku?
 
16:37 Anda paham maksud saya?
S: Saya paham.
  
16:39 K: Si-aku adalah ego, egoisme saya,
ambisi saya, keserakahan, iri
  
16:44 dan itu mengecualikan, memisahkan
Anda dari memasuki bidang itu.
  
16:54 S: Saya pikir itu benar, semakin
orang sadar akan egoismenya,
  
17:00 keserakahannya, ambisinya,
atau di sisi lain,
  
17:04 keamanannya, atau bahkan kedamaiannya
dalam artian dangkal,
  
17:09 semakin dia tidak menyadari
batinnya yang, pada faktanya,
  
17:14 telah bersatu dengan Anda -biarpun
saya amat tidak menyadari hal itu.
  
17:18 K: Tunggu. Sebentar, Pak.
Itu menjadi hal yang berbahaya.
  
17:23 Sebab umat Hindu
telah mempertahankan,
  
17:26 seperti halnya kebanyakan agama,
bahwa di dalam Anda, ada harmoni,
  
17:32 ada Tuhan, ada realitas.
Di dalam Anda.
  
17:35 Dan semua yang harus Anda lakukan
adalah mengelupas
  
17:40 lapisan-lapisan korupsi,
lapisan-lapisan kemunafikan,
  
17:44 lapisan-lapisan kebodohan, dan
lambat laun sampai pada titik itu,
  
17:49 di mana Anda telah
terpancang dengan selaras-
  
17:53 karena Anda telah mendapatkannya.
 
17:56 S: Umat Hindu tidak mempunyai
monopoli atas cara berpikir tertentu itu.
  
18:00 Kami Katolik punya problem serupa.
K: Problem serupa, tentu saja.
  
18:05 S: Kita dihadapkan
pada sebuah penemuan
  
18:08 pada penemuan tentang memandang,
tentang memahami, tentang mencintai,
  
18:12 tentang mempercayai - semua
jenis kata-kata utama ini
  
18:15 kita diperhadapkan dengan
penemuan akan hal-hal ini.
  
18:18 Dan mengelupas lapisan itu, saya
kira, bukanlah cara menemukannya.
  
18:24 Entah itu lapisan-lapisan korupsi,
kebaikan atau kejahatan, apapun,
  
18:30 itu bukan cara untuk
menemukan mereka.
  
18:32 Seseorang tak memisahkan diri dari atau
berlagak rasa jahat tiada dalam dirinya...
  
18:39 agar menemukan dirinya.
 
18:42 Yang diperlukan adalah batin yang
menembus, berempati, terbuka, bebas.
  
18:47 K: Ya, Pak. Tapi, bagaimana seseorang
mencapai itu? Bagaimana seseorang,
  
18:55 dengan seluruh kerusakan
di dalam mana, orang itu dibesarkan
  
19:00 atau yang dihidupi orang itu,
 
19:03 mungkinkah mengesampingkan semua
itu tanpa daya-upaya?
  
19:10 Karena pada momen adanya
daya-upaya, di situ ada distorsi.
  
19:14 S: Saya yakin itu benar.
Tanpa daya-upaya, yaitu, aktivitas,
  
19:20 perilaku, terlampau banyak percakapan,
tapi tentu saja,
  
19:25 bukan tanpa pengeluaran
dari sejumlah besar energi.
  
19:28 K: Ah! Energi hanya bisa muncul
jika di situ tidak ada daya-upaya
  
19:33 S: Persis...
 
19:35 K: Jika di situ tidak ada gesekan,
maka Anda mempunyai energi berlimpah!
  
19:40 S: Persis. Gesekan merusak,
hal itu menghamburkan energi.
  
19:44 K: Gesekan timbul
ketika ada pemisah-misahan
  
19:46 di antara apa yang benar
dan apa yang salah,
  
19:50 di antara apa yang disebut jahat
dan apa yang disebut baik.
  
19:53 Jika saya mencoba menjadi baik,
maka saya menciptakan gesekan.
  
20:00 Jadi permasalahan sesungguhnya,
bagaimana memiliki energi berlimpah ini...
  
20:07 yang akan muncul
jika tak ada konflik apa pun?
  
20:17 Dan orang membutuhkan energi dahsyat
itu untuk menemukan apa itu kebenaran.
  
20:23 S: Atau apa itu kebaikan. Jika kita
bicara tentang kebaikan dalam arti
  
20:27 yang Anda gunakan di situ
-orang mencoba menjadi baik-
  
20:30 kita berurusan dengan undang-
undang, dengan hukum...
  
20:34 K: Bukan itu maksud saya!
S: Kebaikan moral dalam beberapa hal.
  
20:37 K: Kebaikan mekar dalam kebebasan.
Tidak mekar di dalam hukum
  
20:42 dari sanksi religius apa pun
atau kepercayaan agama apa pun.
  
20:46 S: Atau politik atau ekonomi.
Hal ini tidak diragukan.
  
20:50 Maka, jika kita hendak menemukan
makna batin dari kebebasan,
  
20:57 dari kebaikan, dan dari keberadaan,
kita harus mengatakan pada diri kita
  
21:02 alasan kita belum menemukannya atau
 
21:06 salah satu alasan kenapa
kita belum menemukannya
  
21:08 adalah karena di dalam diri kita,
kita punya tendensi aneh ini...
  
21:12 untuk memulai dari hal-hal permukaan
dan tidak pernah sampai ke tujuan.
  
21:15 Kita berhenti di situ,
di mana kita memulai.
  
21:19 K: Pak, bisakah kita sampai pada ini:
 
21:22 misalkan Anda dan saya tidak tahu apa-apa,
 
21:30 tidak punya agama...
S: Kita tidak punya konsepsi...
  
21:34 K: ... sama sekali tak punya
gagasan konseptual.
  
21:39 Saya tidak punya kepercayaan,
tidak dogma, tidak apa pun!
  
21:45 Dan saya ingin menemukan bagaimana
hidup yang benar, bagaimana menjadi baik-
  
21:52 bukan bagaimana menjadi baik -baik.
S: Baik. Ya, ya, ya.
  
21:57 K: Untuk melakukannya, saya menyelidiki,
harus mengobservasi. Benar?
  
22:07 Saya hanya bisa mengobservasi...
 
22:11 observasi hanya termungkinkan
jika di situ tidak ada pemecah-mecahan.
  
22:16 S: Observasi adalah
menyingkirkan pemecah-mecahan.
  
22:18 K: Ya, ketika batin mampu
mengamati tanpa pemecah-mecahan
  
22:25 maka saya mencerap,
maka di situ ada pencerapan.
  
22:29 S: Dalam memandang yang melebihi hal
memandang secara konseptual, kategorial,
  
22:34 atau dalam mengobservasi konstruk mental,
 
22:38 dalam memandang hal itu berlangsung,
sebuah kebenaran ditemukan.
  
22:43 Dan keberadaan dan kebenaran dan
kebaikan semuanya adalah hal yang sama.
  
22:47 K: Tentu.
 
22:48 S: Jadi pertanyaan berikut adalah: mengapa
saya harus berpikir tentang kebenaran...
  
22:52 seolah hal itu berkaitan dengan
konsistensi logis dari berbagai kategori?
  
22:58 Ketimbang berpikir tentang kebenaran
seolah itu berkaitan
  
23:00 dengan keberadaan saya sendiri.
 
23:03 Jika saya harus selalu
membagi-bagi dunia saya
  
23:08 -kita berbicara tentang dualitas- seperti
yang kami lakukan dalam agama Katolik,
  
23:15 dualitas antara tubuh dan jiwa.
K: Dan setan, baik dan...
  
23:19 S: Dan baik dan jahat menjelma
dalam satu atau lain bentuk.
  
23:22 Jika selalu berpikir seperti itu maka
kita takkan pernah menemukan...
  
23:25 K: Tak pelak lagi.
S: ... apa artinya...
  
23:27 K: ... menjadi baik.
S: Menjadi baik, ya, ya,
  
23:30 atau menjadi jujur,
atau menjadi apapun.
  
23:33 Saya pikir inilah masalahnya,
dan seperti Anda katakan,
  
23:36 telah berabad-abad lamanya
pengkondisian kultural terjadi
  
23:40 dari segala perspektif,
sehingga itu sulit.
  
23:44 K: Maksud saya, umat manusia dibesarkan
 
23:46 dalam cara hidup yang dualistik ini,
tak pelak lagi.
  
23:50 S: Mungkin kita bisa lakukan ini
lebih baik jika tak perlu mempertimbangkan
  
23:57 dualitas yang mudah dilihat
antara baik dan buruk,
  
24:01 antara yang kudus dan yang duniawi,
 
24:06 antara benar dan salah,
antara jujur dan dusta,
  
24:11 tak satu pun dari dualitas ini,
tapi entah bagaimana, mengatasi
  
24:15 dualitas yang paling menyusahkan kita:
 
24:17 dualitas antara Anda dan saya,
antara laki-laki dan perempuan.
  
24:22 K: Ya, dualitas antara saya dan Anda.
Sekarang, apa akarnya itu?
  
24:27 Apakah sumber dari pemecah-mecahan
sebagai saya dan Anda,
  
24:33 kita dan mereka, secara politis
-pahamkah Anda?
  
24:37 S: Tak mungkin ada suatu sumber untuk ini
dalam diri kita karena kita adalah satu,
  
24:42 seperti jari-jari tangan
adalah satu. Tak disadari.
  
24:44 K: Ah, tunggu. Tidak. Saat Anda
katakan, "Kita adalah satu,"
  
24:48 itu adalah asumsi. Saya tidak tahu
saya adalah satu.
  
24:54 Sebenarnya, pemecah-mecahan itu eksis.
 
24:58 Hanya saat pemecah-mecahan berakhir,
barulah saya bisa berkata...
  
25:03 ... Saya tak perlu berkata, "Saya satu!"
Ada suatu kesatuan.
  
25:06 S: Saat berkata
"Saya," Anda maksud, "Saya satu."
  
25:09 K: Ah, tidak!
S: Menambahkan kata "satu" itu mubazir.
  
25:12 K: Bukan, saya ingin menukik sedikit
ke dalam hal ini karena
  
25:15 hanya ada -sebagai manusia yang hidup-
 
25:19 ada saya dan Anda,
 
25:21 tuhanku dan tuhan Anda, negeriku dan
negeri Anda, doktrinku, pahamkah Anda?
  
25:26 Saya dan Anda, saya dan Anda.
 
25:30 Sekarang, si-aku adalah
entitas yang terkondisi.
  
25:35 S: Ya. Si-aku adalah
entitas yang terkondisi.
  
25:38 K: Mari bergerak selangkah demi selangkah.
Si-aku adalah pengkondisian itu,
  
25:42 entitas yang terkondisi
dihasilkan, diasuh,
  
25:47 oleh kebudayaan,
masyarakat, agama,
  
25:50 penghidupan konseptual, ideologis.
 
25:55 Si-aku yang egois,
 
25:56 si-aku yang pemarah, kejam,
aku yang menyebut, "Saya cinta kamu,"
  
26:01 "Saya tidak mencintai"
-semua itu adalah aku.
  
26:05 Aku itu adalah
akar dari pemisahan.
  
26:10 S: Tidak diragukan. Faktanya,
terminologi yang Anda gunakan menyingkap
  
26:16 substansi gagasan Anda.
Kata "aku" adalah kata ganti objektif.
  
26:21 Begitu saya menjadikan diri saya
sesuatu di luar sana untuk dilihat,
  
26:26 saya tak akan pernah memandang
apa pun yang nyata
  
26:29 karena saya tidak di luar sana
untuk melihat.
  
26:32 Begitu saya menjadikan kebebasan
sesuatu di luar sana untuk dikejar,
  
26:36 maka saya tidak akan pernah
mencapai kebebasan.
  
26:38 Begitu saya jadikan kebebasan
sesuatu yang akan diberi seseorang,
  
26:41 maka saya tidak akan pernah
mencapai kebebasan.
  
26:43 K: Tidak, tidak. Semua otoritas
bisa disingkirkan.
  
26:46 Ada saya dan Anda. Sepanjang
pengkotak-kotakan ini eksis,
  
26:51 di situ pastilah ada konflik
antara Anda dengan saya.
  
26:54 S:Tak diragukan lagi.
 
26:55 K: Dan bukan hanya ada konflik
antara Anda dengan saya,
  
26:58 namun ada konflik di dalam saya.
 
27:01 S: Begitu Anda menentukan diri sendiri,
timbul konflik dalam diri Anda.
  
27:04 K: Jadi, saya ingin mengetahui
 
27:10 apakah si-aku ini bisa berakhir, maka...
 
27:17 Si-aku berakhir! Itu cukup bagus
untuk dikatakan. Tak ada "maka".
  
27:21 S: Ya, karena jelaslah tak ada "maka"
jika si-aku berakhir.
  
27:26 K: Sekarang, si-aku.
 
27:28 Mungkinkah untuk secara komplet
mengosongkan batin dari si-aku?
  
27:35 Bukan hanya pada tingkat kesadaran,
tapi mendalam,
  
27:41 pada kedalaman akar ketidaksadaran
dari keberadaan seseorang.
  
27:47 S: Saya pikir, itu tak hanya
mungkin, tapi itu harga
  
27:49 yang harus kita bayar untuk keberadaan,
atau kebaikan, atau kebenaran...
  
27:54 atau apapun, hidup. Untuk hidup,
harga yang harus kita bayar
  
28:01 adalah membebaskan diri dari si-aku,
ke-aku-an.
  
28:03 K: Adakah suatu proses, sistem,
metode, untuk mengakhiri si-aku?
  
28:10 S: Tidak, saya pikir tidak ada
proses atau metode.
  
28:13 K: Oleh sebab itu, tidak ada proses,
harus dilakukan secara instan!
  
28:17 Sekarang, tentang ini,
kita harus sangat jernih,
  
28:20 karena semua agama
telah mempertahankan proses.
  
28:27 Keseluruhan sistem evolusioner,
secara psikologis, adalah proses.
  
28:33 Jika Anda katakan -dan bagi saya
itu adalah suatu realitas-
  
28:37 bahwa itu tidak mungkin
merupakan suatu proses,
  
28:43 yang berarti persoalan waktu,
tingkatan, tahapan,
  
28:48 maka hanya ada satu permasalahan,
yakni mengakhirinya secara instan.
  
28:56 S: Ya, menghancurkan monster
dalam satu langkah.
  
28:59 K: Secara instan!
S: Ya.
  
29:02 Tak diragukan, itu yang harus dilakukan.
Kita harus menghancurkan ke-aku-an.
  
29:07 K: Saya tak akan memakai
"menghancurkan". Mengakhiri si-aku,
  
29:11 dengan semua akumulasinya,
dengan semua pengalamannya,
  
29:15 apa pun yang sudah diakumulasinya,
secara sadar dan tidak-sadar,
  
29:19 bisakah seluruh konten tersebut dibuang?
 
29:24 Tidak dengan daya-upaya, oleh si-aku.
 
29:27 Jika saya bilang, "Oleh si-aku,
saya buang," itu masih si-aku.
  
29:30 S: Ya.
 
29:31 K: Atau saya buang dengan tenaga
kehendak, itu masih si-aku.
  
29:35 Si-aku masih di situ.
 
29:38 S: Itu bukan -jelas dlm batin saya,
itu bukan suatu tindakan,
  
29:42 ataupun aktivitas batin,
bukan juga aktivitas kehendak,
  
29:46 bukan juga aktivitas perasaan,
bukan juga aktivitas tubuh,
  
29:50 yang akan membantu saya memandang saya
-bukan, maafkan saya-
  
29:55 akan membantu saya memandang.
K: Memandang, ya.
  
29:59 S: Dan karena kita, di dunia ini,
begitu terbungkus dengan melakukan,
  
30:03 dengan memiliki, dengan bertindak,
kita benar-benar tidak mengerti
  
30:07 secara reflektif dan mendalam, apa
yang berlangsung sebelum kita bertindak
  
30:13 atau sebelum kita memiliki.
 
30:14 Dan saya pikir, kita wajib
 
30:17 merenung ke belakang
dan melihat bahwa ada tindakan melihat
  
30:22 sebelum tindakan memandang berlangsung...
 
30:25 -dalam dua pengertian dari
kata "seeing" -
  
30:27 seperti halnya ada cinta sebelum
seseorang menjadi sadar akan cinta,
  
30:32 dan tentunya, sama
seperti adanya keberadaan
  
30:35 sebelum seseorang menjadi
sadar tentang keberadaan.
  
30:37 K: Ya, Pak. Tapi, saya...
 
30:40 S: Apakah pertanyaan yang merenung
ke belakang
  
30:42 dalam, batiniah, cukup mendalam?
 
30:45 K: Sebentar, Pak,
itulah kesulitannya karena si-aku
  
30:49 ada pada tingkatan sadar dan pada tingkat
yang lebih dalam dari kesadaran.
  
30:57 Bisakah batin sadar memeriksa
ketidaksadaran si-aku dan menyingkapnya?
  
31:11 Ataukah konten kesadaran
adalah si-aku!
  
31:18 S: Bukan, si-diri melampaui
konten yang ada dalam kesadaran.
  
31:22 Tapi, si-aku mungkin adalah
konten yang ada dalam kesadaran.
  
31:25 Tapi si-aku bukanlah saya,
si-aku bukanlah si-diri.
  
31:28 K: Sebentar. Saya memasukkan si-diri,
si-ego, ke dalam si-aku,
  
31:34 keseluruhan ide konseptual
tentang diri saya,
  
31:41 si-diri yang lebih tinggi
si-diri yang lebih rendah, si-jiwa:
  
31:44 semuanya itu adalah konten
dalam kesadaran saya
  
31:49 yang menciptakan si-saya, si-ego
yang adalah si-aku.
  
31:54 S: Pastinya itulah yang membuat si-aku.
Tak diragukan lagi saya setuju hal itu,
  
31:58 itulah yang menciptakan diri objektif
yang bisa saya periksa dan analisis
  
32:02 dan saya lihat, perbandingkan, bahwa
saya bisa jadi kejam pada orang lain.
  
32:07 Itu sudah jelas, demikianlah, atau
penjumlahan dari keseluruhan hal
  
32:12 yang Anda masukkan dalam kata "aku",
adalah penjelasan dari sejarah
  
32:16 seluruh keserbaragaman hubungan
-hubungan yang sekarang,
  
32:21 akan tetapi masih
belum sampai pada kenyataan.
  
32:23 K: Kenyataan itu tidak bisa didapat,
atau tidak bisa mekar
  
32:29 apabila si-aku ada di situ.
 
32:32 S: Kapanpun, seperti saya katakan
sebelumnya, kapanpun saya bersikeras
  
32:37 memandang Anda sebagai saya,
maka kenyataan tidak bisa mekar
  
32:42 dan kebebasan tidak akan ada.
 
32:43 K: Nah, bisakah konten kesadaran
saya yang adalah si-aku,
  
32:49 yang adalah ego saya, diri saya,
gagasan saya, pikiran saya,
  
32:53 ambisi saya, keserakahan saya -semua
itu adalah si-aku- kebangsaan saya,
  
32:59 hasrat akan keamanan, kesenangan,
hasrat saya akan seks,
  
33:04 hasrat saya melakukan ini dan itu-
 
33:06 kesemuanya itu adalah konten
dalam kesadaran saya.
  
33:11 Selama konten itu tetap ada,
pastilah di situ ada pemisah-misahan
  
33:17 antara Anda dan saya,
antara baik dan buruk,
  
33:21 dan keseluruhan pengkotak-
kotakan pun berlangsung.
  
33:24 Nah, kita mengatakan,
pengosongan konten tersebut
  
33:30 bukanlah proses waktu.
 
33:32 S: Juga tidak tunduk pada metodologi.
 
33:34 K: Metodologi. Lalu apa
yang dilakukan seseorang?
  
33:38 Mari kita melihatnya sejenak,
 
33:41 luangkan waktu sedikit untuk ini,
karena hal ini cukup penting
  
33:44 karena kebanyakan orang mengatakan:
"Anda harus berlatih -pahamkah Anda?-
  
33:52 Anda harus berjuang, Anda harus
berdaya-upaya luar biasa,
  
33:55 hidup disiplin, mengontrol, mengekang."
 
33:59 S: Saya sangat akrab dengan itu semua.
 
34:01 K: Semua itu keliru!
 
34:04 S: Hal itu tidak membantu.
 
34:06 K: Tidak sama sekali.
S: Tidak.
  
34:08 K: Jadi, bagaimana konten itu dikosongkan
 
34:11 dengan satu pukulan, seperti itu?
 
34:15 S: Saya akan mengatakan -mungkin
kita bisa mendiskusikan ini bersama-
  
34:19 konten itu tidak bisa dikosongkan
dengan suatu tindakan negatif
  
34:25 yang menyangkal konten.
K: Tidak. Jelas tidak.
  
34:28 S: Itu adalah jalan buntu, mestinya kita
tak mendekatinya secara demikian.
  
34:32 K: Jelas. Dengan menyangkalnya,
Anda menyembunyikan persoalan.
  
34:35 Maksud saya, itu seperti
menguncinya. Itu masih ada di situ.
  
34:38 S: Itu adalah kepura-puraan.
K: Begitulah, Pak.
  
34:43 Seseorang harus melihat ini. Seseorang
harus sangat jujur dalam hal ini.
  
34:50 Jika tidak seseorang akan memainkan trik
pada diri sendiri, menipu diri sendiri.
  
34:55 Saya melihat dengan jelas dan logis,
si-aku adalah si-perusak di dunia ini.
  
35:03 S: Saya tak melihatnya sedemikian logis
hanya secara intuitif.
  
35:07 K: Baiklah.
 
35:09 S: Itu bukan hasil
tindakan diskursif.
  
35:11 K: Bukan, bukan.
S: Bukan dialektika.
  
35:12 K: Bukan analitik, dialektik,
-Anda melihat itu.
  
35:15 Anda lihat manusia yang egois,
baik tinggi maupun rendah secara politis,
  
35:20 Anda melihat manusia, egois,
 
35:23 dan betapa merusaknya mereka.
 
35:29 Sekarang pertanyaannya adalah,
bisakah konten ini dikosongkan,
  
35:36 sehingga batin betul-betul kosong
 
35:40 dan aktif dan, oleh karena itu,
mampu mempersepsi?
  
35:46 S: Kemungkinan konten tersebut
tidak bisa dikosongkan begitu saja.
  
35:51 Saya pikir konten itu bisa
diletakkan ke dalam perspektif
  
35:54 atau bisa dilihat kekurangannya
atau ketidaksesuaiannya,
  
36:03 dengan tindakan memandang
yang sangat energik.
  
36:06 Itu yang saya katakan di bagian awal,
 
36:08 sepanjang saya lihat kebenaran
dari agama apa pun,
  
36:13 saya tidak bertemu kebenaran itu sendiri.
Dan cara saya menemukan
  
36:18 nilai kebenaran yang relatif
dari agama tertentu
  
36:21 adalah memandang secara persis kebenaran
di dalamnya, bukan sebagai objek.
  
36:26 K: Tidak, saya tidak bisa, batin
tidak bisa mencerap kebenaran
  
36:32 jika di situ ada pemecah-mecahan.
Itu harus saya pegang.
  
36:35 S: Begitu ada pemecah-
mecahan apa pun...
  
36:37 K: Selesailah.
 
36:39 S: Anda di level kategoris,
Anda tak bisa melihat.
  
36:41 K: Karenanya, pertanyaan saya,
bisakah batin mengosongkan kontennya.
  
36:49 Ini sungguh-sungguh -pahamkah Anda?
 
36:51 S: Saya paham dan saya pikir
 
36:53 Anda sedang merancang
metodologi baru.
  
36:55 K: Ah, tidak! Saya tidak sedang
merancang metodologi.
  
36:58 Saya tidak mempercayai metode.
 
37:00 Menurut saya, itu hal
yang paling mekanis, merusak.
  
37:05 S: Tapi, setelah mengatakan demikian,
Anda kembali lagi dan mengatakan
  
37:08 tetapi jika batin hendak me-...,
jika si-diri betul-betul hendak memandang,
  
37:15 ia haruslah mengosongkan kontennya.
Bukankah ini metode?
  
37:18 K: Tidak, tidak.
S: Tapi mengapa, bukankah itu metode?
  
37:20 K: Saya akan tunjukkan pada Anda, Pak.
Bukan suatu metode lantaran kita katakan,
  
37:26 sepanjang ada pemecah-mecahan,
pastilah di situ ada konflik.
  
37:30 Hal itu memang demikian
secara politis, secara religius.
  
37:33 Dan kita katakan, pemecah-
mecahan eksis lantaran si-aku.
  
37:39 Si-aku adalah konten
dalam kesadaran saya.
  
37:42 Dan bahwa suatu pengosongan batin
membawa penyatuan.
  
37:52 Saya melihat ini, tidak secara logis,
tapi sebagai fakta, bukan konseptual.
  
37:57 Saya melihat hal ini berlangsung
di dunia dan saya mengatakan,
  
38:01 "Betapa absurdnya,
betapa kejamnya semua ini."
  
38:03 Dan wawasan tentang hal itu
mengosongkan batin.
  
38:09 Pemahaman itu sendiri adalah
tindakan pengosongan.
  
38:14 S: Anda mengatakan
bahwa suatu wawasan
  
38:17 tentang ketidaksesuaian
dalam konten kesadaran
  
38:21 atau dalam si-aku, suatu wawasan
tentang ketidakcukupan di dalamnya
  
38:26 atau kepalsuan dalam si-aku
merupakan penemuan keberadaan.
  
38:32 K: Itu benar. Itu benar.
S: Kita harus ikuti itu.
  
38:35 K: Kita harus.
 
38:37 S: Karena saya bertanya-tanya apakah
persepsi itu sebenarnya negatif
  
38:40 atau mungkin sebenarnya sangat positif.
 
38:43 Hal ini lebih mudah dipandang
dari keberadaan benda-benda,
  
38:49 -tidak harus saya atau Anda,
dalam artian objektif,
  
38:53 bisa meja ini
atau tangan saya-
  
38:57 saya menemukan ketidakcukupan
dalam konten kesadaran
  
39:03 atau dalam hal-hal objektif
seperti saya atau Anda.
  
39:07 Jadi, ini mungkin saja tampilan
 
39:13 intelektual yang agak mendalam
atau energi pribadi
  
39:18 yang membuat dirinya, dengan alasan
tampilan, terlihat oleh saya.
  
39:26 Itu sia-sia dan pada saat bersamaan,
mudah untuk menangani konsep
  
39:30 -kita sudah menyetujui hal itu-
mudah untuk membuat konsep.
  
39:34 Lebih mudah, saya pertahankan,
untuk memandang secara sederhana.
  
39:39 K: Tentu saja.
S: Sebelum konsep.
  
39:41 K: Memandang.
S: Hanya sekedar memandang.
  
39:44 K: Pak,
 
39:47 saya tidak bisa...
Tidak ada persepsi
  
39:49 jika persepsi itu melalui sebuah citra.
 
39:54 S: Tidak ada persepsi jika persepsi itu
melalui sebuah citra.
  
39:58 Saya pikir itu sangat benar.
 
39:59 K: Sekarang, batin mempunyai gambar.
 
40:03 S: Batin terganggu oleh gambar-gambar.
 
40:05 K: Itulah. Batin memiliki gambar-gambar.
Saya memiliki gambaran tentang Anda
  
40:10 dan Anda memiliki gambaran tentang saya.
 
40:14 Gambaran-gambaran ini dibangun
melalui kontak, melalui hubungan,
  
40:20 melalui perkataan Anda,
Anda melukai saya,
  
40:23 Anda tahu, itu dibangun, itu ada di situ!
Yang adalah memori.
  
40:29 Sel-sel otak itu sendiri
merupakan residu memori
  
40:34 yang adalah formasi gambar. Benar?
 
40:39 Maka, pertanyaannya adalah:
 
40:47 memori, yang adalah pengetahuan,
diperlukan untuk berfungsi
  
40:53 -secara teknis, untuk pulang ke rumah,
mengemudi ke rumah, saya perlu memori.
  
41:00 Oleh sebab itu, memori diposisikan
sebagai pengetahuan.
  
41:04 Dan pengetahuan sebagai citra
tidak punya tempat
  
41:11 dalam hubungan antarmanusia.
 
41:15 S: Saya masih berpikir bahwa kita
menghindari masalah yang ada.
  
41:19 Saya pikir apa yang Anda katakan relatif
terhadap pertanyaan tentang memori
  
41:24 sebagaimana Anda sarankan,
sangatlah penting,
  
41:26 tapi menurut saya, memori itu,
 
41:30 atau penyangkalan memori oleh kesadaran,
 
41:33 atau penyangkalan
terhadap konten kesadaran
  
41:35 bukanlah solusi permasalahan. Saya pikir,
yang perlu kita lakukan adalah mengatakan
  
41:40 bagaimana Anda, Krishnaji
 
41:44 -saya tak bicara metodologi sekarang-
tapi saya tahu Anda telah melihat.
  
41:47 Bagaimana Anda melihat,
atau memandang?
  
41:52 Dan jangan katakan
apa yang Anda eliminasi
  
41:55 untuk menjelaskan bagaimana
Anda melihat.
  
41:57 K: Saya akan katakan bagaimana
saya memandang. Anda lihatlah!
  
42:00 S: Ya, sekarang, misalkan Anda
ingin mengatakan pada seseorang
  
42:03 yang tidak memiliki pengalaman,
"Anda sekadar memandang."
  
42:06 Karena saya mengatakan hal yang
sama setiap saat,
  
42:09 "Anda sekadar memandang saja,"
 
42:11 dan orang-orang berkata,
"Anda sekadar memandang, bagaimana?"
  
42:14 Dan kita harus, jika kita
akan menjadi guru,
  
42:18 menghadapi ini: "Izinkan saya
memegang tangan Anda
  
42:21 dan saya perlihatkan
bagaimana memandang."
  
42:23 K: Akan saya tunjukkan pada Anda.
Menurut saya, ini cukup sederhana.
  
42:30 Pertama sekali, orang harus
memandang apakah dunia ini,
  
42:35 memandang sekitar Anda.
 
42:39 Memandang. Jangan berpihak.
 
42:42 S: Ya. Saya pikir terminologi kita
agak menghalangi di sini.
  
42:47 Daripada mengatakan, "Orang harus
mulai dengan memandang apa dunia ini"
  
42:51 kita bisa memulai dengan mengatakan,
"Orang harus memandang dunia."
  
42:56 Tidak merisaukan sifat atau kategori.
 
42:58 K: Tidak. Pandang dunia.
S: Tanpa apa.
  
43:00 K: Pandang dunia
S:Pandang dunia
  
43:02 K: Hal serupa -pandang dunia.
S: Ya.
  
43:03 K: Pandang dunia seperti adanya.
 
43:05 Jangan menerjemahkannya
berkenaan dengan konsep Anda.
  
43:10 S: Sekarang, lagi, bisakah saya katakan,
"Pandang dunia sebagaimana adanya?"
  
43:15 K: Ya, katakan...
 
43:17 S: Apa itu membantu?
Kita sedang mencoba...
  
43:19 K: Pandang dunia apa adanya.
Anda tak bisa memandang dunia apa adanya
  
43:23 jika Anda menafsirkannya dalam
terminologi Anda, kategori Anda,
  
43:30 temperamen Anda, prasangka Anda.
Pandang apa adanya,
  
43:35 kejam, brutal, apa pun itu.
S: Atau baik atau indah.
  
43:40 K: Apa pun itu. Bisakah Anda melihatnya
secara demikian? Yang artinya
  
43:44 bisakah Anda melihat pohon tanpa
gambaran tentang pohon
  
43:50 -secara botanikal dan semua penamaan-
sekadar melihat pohon?
  
43:55 S: Dan begitu Anda menemukan
-dan tidak mudah
  
44:00 di dunia kita untuk menemukan-
pengalaman sederhana
  
44:05 memandang pohon tanpa memikirkan
ke-pohon-an, atau sifatnya,
  
44:10 atau, seperti Anda katakan, botani
dan hal-hal sejenisnya,
  
44:13 kemudian apa yang Anda sarankan
dalam langkah berikutnya dari memandang?
  
44:18 K: Lalu memandang diri saya apa adanya.
 
44:24 S: Yang ada di bawah konten
kesadaran Anda.
  
44:26 K: Pandang semua, bukan yang tersembunyi.
Saya belum mulai. Saya pandang diriku.
  
44:31 Artinya, mengenal-diri. Harus ada
pengamatan terhadap diri sendiri
  
44:39 apa adanya, tanpa mengatakan: betapa
buruk, betapa jelek, betapa cantik,
  
44:44 betapa sentimental. Sekadar waspada
terhadap semua gerak diri sendiri,
  
44:54 yang sadar maupun bawah sadar.
 
44:58 Saya awali dengan pohon itu.
Bukan proses. Saya memandangnya.
  
45:04 Dan juga saya harus memandang,
dengan cara ini, diri sendiri.
  
45:09 Kemunafikan, trik yang saya mainkan
-Anda ikuti?- keseluruhannya itu.
  
45:14 Penuh perhatian, tanpa memilih
-sekadar perhatian.
  
45:20 Mengenal diri sendiri.
Mengenal diri sendiri sepanjang waktu.
  
45:24 S: Namun, dengan cara non-analitis.
 
45:27 K: Tentu. Tapi batin telah
dilatih untuk analitis.
  
45:35 Jadi, saya harus mengikuti itu.
Mengapa saya analitis?
  
45:39 Perhatikan itu.
Pandang kesia-siaannya.
  
45:43 Itu membutuhkan waktu, analisis,
 
45:46 Anda tak pernah bisa sungguh menganalisis,
oleh profesional atau diri sendiri,
  
45:52 jadi pandanglah kesia-siaannya,
absurditasnya, bahayanya.
  
45:56 Nah, apa yang Anda lakukan?
 
45:58 Anda memandang sesuatu apa adanya,
sebenar-benarnya yang berlangsung.
  
46:07 S: Saya cenderung mengatakan
bahwa ketika kita mendiskusikan ini,
  
46:12 kita dapat menggunakan kata-kata ini,
"Memandang diri dalam kepenuhannya
  
46:19 dengan seluruh polaritas
negatif dan positifnya."
  
46:22 Memandang diri dalam kepenuhannya
lalu menyadari kesia-siaan dari...
  
46:27 secara analitis melihat
pada dimensi tertentu dari diri
  
46:32 lalu mengatakan, "Tetapi,
saya masih harus memandang."
  
46:34 K: Tentu.
 
46:35 S: Di titik ini, saya belum memandang.
Semua yang saya lihat
  
46:38 adalah kategori analitis yang pernah
saya gunakan untuk memisahkan diri,
  
46:41 dengan suatu cara atau lainnya,
dalam potongan kecil.
  
46:44 K: Itu sebab saya katakan -bisakah Anda
melihat pohon tanpa pengetahuan?
  
46:48 S: Tanpa pengkondisian terdahulu.
K: Pengkondisian terdahulu.
  
46:51 Bisa Anda lihat? Bisakah Anda melihat
bunga, dan tanpa sepatah katapun?
  
46:59 S: Saya bisa paham bagaimana
seseorang harus mampu melihat diri.
  
47:05 Saya harus mampu melihat
pada Anda, Krishnamurti,
  
47:09 dan tidak menggunakan kata "Krishnamurti."
 
47:11 Jika tidak, saya tak memandang Anda.
K: Ya.
  
47:13 S: Ini benar.
 
47:14 Sekarang, setelah saya mempelajari,
melalui pemikiran
  
47:18 untuk berkata, "Saya harus memandang Anda
dan tidak menggunakan kata," kemudian...
  
47:25 K: Kata, bentuk, gambaran,
 
47:28 konten dari gambaran,
dan semuanya itu.
  
47:32 S: Ya. Apapun yg ditandai oleh
kata, tidak boleh saya pakai.
  
47:34 K: Pak, itu membutuhkan
pengamatan yang besar sekali.
  
47:38 S: Ya. Itu butuh...
 
47:41 K: Pengamatan dalam artian, bukan koreksi,
 
47:44 bukan berkata, "Saya harus,
saya tidak harus" -mengamati.
  
47:51 S: Ketika Anda gunakan
kata 'mengamati' -dan lagi,
  
47:54 karena kita mengajar,
kita harus hati-hati berkata...
  
47:57 K: Menyadari -tidak masalah
kata apa yang Anda gunakan.
  
48:01 S: Mengamati mempunyai konotasi
observasi, dan observasi mempunyai
  
48:06 konotasi meletakkan sesuatu
di luar untuk dilihat,
  
48:09 di bawah mikroskop,
seperti yang dilakukan ilmuwan.
  
48:11 Saya pikir ini bukan
yang ingin kita ajar.
  
48:13 K: Bukan, tentu, tentu.
 
48:15 S: Sekarang, jika Anda bisa pakai lagi,
Krishnaji, kata 'mengamati'...
  
48:21 K: Sebagai ganti mengamati,
menyadari, sadar-tanpa-memilih.
  
48:25 S: Sadar-tanpa-memilih.
Baik. Baiklah.
  
48:27 K: Itu baik.
S: Ini harus kita lakukan.
  
48:29 K: Ya. Sadar-tanpa-memilih tentang...
 
48:41 ... yang dualistik, analitik,
cara hidup konseptual ini.
  
48:47 Sadari hal itu.
Jangan mengoreksinya,
  
48:51 jangan katakan: "Ini benar"
-sadari saja hal itu.
  
48:54 Dan, Pak, kita menyadari hal ini,
dengan sangat intens, ketika ada krisis.
  
49:04 S: Kita punya permasalahan lain
yang mendahului yg satu ini dekat sekali.
  
49:09 Saya pikir permasalahan lain itu adalah:
jenis pertanyaan-pertanyaan apa
  
49:14 yang bisa saya tanyakan
dalam rangka sadar akan Anda
  
49:21 dengan tidak menggunakan kategori,
atau sadar akan fakta
  
49:24 yang, dalam rangka menyadari Anda,
saya menggunakan kategori
  
49:26 dan stereotipe dan semua
gambaran lucu lainnya
  
49:29 yang saya gunakan sepanjang waktu.
Adakah cara di mana
  
49:33 saya bisa membahasakan diri pada Anda,
menggunakan semacam kata tertentu,
  
49:39 bukan ide, kata yang tidak
berhubungan dengan ide sepenuhnya,
  
49:44 menggunakan kata-kata tertentu
yang tidak berkaitan dengan ide,
  
49:47 yang, entah bagaimana, akan mengajari saya
-atau mengajari Anda atau siapa pun-
  
49:51 bahwasanya ada sesuatu
yang lebih penting
  
49:54 yang lebih signifikan di dalam Anda
ketimbang nama Anda, atau sifat Anda,
  
49:59 atau konten Anda, kesadaran Anda,
atau kebaikan atau kejahatan Anda?
  
50:03 Kata-kata apa yang akan Anda gunakan
jika Anda akan mengajar
  
50:07 orang muda atau orang dewasa
-kita semua mempunyai masalah-
  
50:10 kata-kata apa yang akan Anda gunakan
dalam rangka membuatnya dapat dimengerti
  
50:15 dengan cara non-rasional atau,
lebih tepat, dengan cara pra-rasional
  
50:20 bahwa Anda lebih dari
yang dikonotasikan oleh nama Anda?
  
50:25 K: Saya akan menggunakan kata itu,
saya pikir: sadar-tanpa-memilih.
  
50:30 S: Tanpa-memilih.
 
50:31 K: Menjadi sadar-tanpa-memilih.
Karena memilih, seperti yang kita lakukan,
  
50:38 merupakan salah satu konflik yang dahsyat.
 
50:42 S: Dan kita, dengan beberapa alasan aneh,
membaurkan memilih dengan kemerdekaan
  
50:46 yang adalah antitesis kemerdekaan.
 
50:48 K: Itu absurd, tentunya!
S: Itu absurd, ya.
  
50:52 Tapi, untuk menjadi sadar secara bebas.
 
50:55 K: Secara bebas, tanpa-memilih.
 
50:57 S: Tanpa-memilih, sadar secara bebas.
 
51:00 S: Nah, seandainya seseorang
ingin mengatakan
  
51:03 "Tapi, Pak, saya tidak mengerti sepenuhnya
apa yang Anda maksud
  
51:09 dengan sadar-tanpa-memilih,
bisakah Anda tunjukkan apa maksud Anda?
  
51:13 K: Akan saya tunjukkan. Pertama sekali,
 
51:17 memilih menyiratkan dualitas.
 
51:23 S: Memilih menyiratkan dualitas, ya.
 
51:25 K: Tapi ada yang namanya memilih:
saya memilih karpet
  
51:28 yang lebih bagus dari karpet lainnya.
Pada tingkatan itu, memilih harus ada.
  
51:33 Tapi, apabila di situ ada
suatu kesadaran diri,
  
51:39 memilih menyiratkan dualitas,
memilih menyiratkan daya-upaya.
  
51:46 S: Memilih menyiratkan kesadaran yang
telah jauh berkembang dari keterbatasan.
  
51:51 K: Ya, ya. Memilih
menyiratkan juga suatu kompromi.
  
51:57 S: Memilih menyiratkan kompromi
-pengkondisian kultural.
  
52:01 K: Kompromi. Kompromi
berarti imitasi.
  
52:03 S: Ya.
 
52:04 K: Imitasi artinya lebih berkonflik,
mencoba hidup sesuai dengan sesuatu.
  
52:09 Jadi, harus ada suatu pemahaman
tentang kata itu,
  
52:14 tidak hanya secara verbal,
tapi juga artinya secara batin,
  
52:17 signifikansinya. Yaitu, saya memahami
 
52:21 signifikansi sepenuhnya dari memilih,
keseluruhan memilih.
  
52:26 S: Bolehkah saya coba menerjemahkan ini?
 
52:28 K: Ya.
S: Bisakah dikatakan
  
52:30 bahwa sadar-tanpa-memilih berarti
saya, dengan suatu cara atau lainnya,
  
52:35 menyadari kehadiran Anda
ke dalam batin saya
  
52:42 dan saya tidak membutuhkan pilihan?
Pilihan tidak relevan,
  
52:45 pilihan adalah abstrak, pilihan
berhubungan dengan kategori-kategori
  
52:49 ketika saya tak merasa, setelah memandang
Anda, bahwa saya harus memilih Anda,
  
52:55 atau memilih menyukai Anda,
atau mengasihi Anda,
  
52:57 bahwa tiada pemilihan terlibat.
 
52:59 Bisakah Anda katakan saya mempunyai
sadar-tanpa-memilih akan Anda?
  
53:02 K: Ya, tapi pahamkah Anda,
 
53:07 adakah memilih di dalam mengasihi?
 
53:14 Saya mengasihi. Adakah memilih di situ?
 
53:17 S: Tidak ada memilih di dalam kasih.
 
53:19 K: Tidak ada, itulah. Memilih
adalah suatu proses intelek.
  
53:26 Saya menerangkan ini sebisa kita,
mendiskusikannya, mempelajarinya,
  
53:30 namun saya melihat signifikansinya.
 
53:33 Sekarang, menjadi sadar.
Apakah artinya itu, menjadi sadar?
  
53:37 Untuk menyadari hal-hal
tentang Anda, dari luar,
  
53:41 dan juga menyadari yang di dalam,
apa yang terjadi, motif Anda.
  
53:45 -menjadi sadar, tanpa-memilih:
memperhatikan, melihat, mendengar
  
53:53 sehingga Anda memperhatikan
tanpa gerak pikiran apa pun.
  
54:02 Pikiran adalah gambaran,
pikiran adalah kata.
  
54:06 Memperhatikan tanpa...
 
54:11 ... tanpa munculnya pikiran
yang mendorong Anda ke segala arah.
  
54:16 Sekadar memperhatikan.
 
54:19 S: Anda memakai kata yang lebih baik
sebelumnya, ketika mengatakan...
  
54:22 K: Sadar.
S: Menyadari.
  
54:24 K: Ya, Pak.
S: Karena itu
  
54:25 adalah tindakan eksistensi
ketimbang tindakan batin
  
54:28 atau perasaan.
K: Tentu, tentu.
  
54:30 S: Maka, kita harus... saya harus,
dengan suatu cara atau lainnya, menjadi,
  
54:34 akhirnya, dan karenanya,
menjadi sadar, dalam arti pra-kognitif
  
54:41 tentang kehadiran Anda.
K: Sadar. Betul.
  
54:43 S: Dan ini mendahului pilihan.
K: Ya.
  
54:45 S: Dan itu membuat
memilih tidak perlu.
  
54:48 K: Tidak ada memilih
-sadar. Tidak memilih.
  
54:50 S: Menyadari.
Sadar-tanpa-memilih.
  
54:52 K: Nah, dari situ, ada
suatu kesadaran akan si-aku.
  
55:02 Kesadaran, betapa munafiknya -Anda tahu-
 
55:07 keseluruhan gerakan
si-aku dan si-Anda.
  
55:11 S: Pak, Anda bergerak mundur
sekarang, kita sudah...
  
55:14 K: Sengaja. Saya tahu. Saya pindah
sehingga kita menghubungkannya.
  
55:17 Sehingga di situ, ada kualitas batin
yang bebas dari si-aku
  
55:25 dan karenanya, tidak ada pemisahan.
Saya tidak katakan, "Kita adalah satu,"
  
55:31 tapi kita menemukan kesatuan itu
sebagai hal hidup, bukan hal konseptual,
  
55:38 ketika di situ ada
rasa perhatian-tanpa-memilih.
  
55:44 S: Ya.